Topik


Showing posts with label Jenayah Islam. Show all posts
Showing posts with label Jenayah Islam. Show all posts

Saturday, April 14, 2012

Nabi Muhammad SAW manusia biasa?

Kesalahan terbesar pihak yang menolak mengakui kebesaran Nabi Muhammad dan menolak memujanya, bahkan menganggap pelakunya sebagai bertindak berlebih-lebihan dan kultus yang diharamkan, adalah karena mereka melihat Nabi Muhammad saw dengan kacamata materi. Mereka hanya melihat Nabi saw sebagai makhluk biologis. Mereka lupa bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih tinggi dari sekadar dimensi biologis atau fisik. Bahkan dimensi rohani merupakan jati diri manusia yang sesungguhnya.

SESUNGGUHNYA dalam diri Rasulullah saw terdapat suri teladan yang baik bagi kamu (yaitu) bagi siapa yang mengharap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) hari akhir dan banyak menyebut Allah (QS. 33:21)

Benarkah Nabi saw Manusia Biasa — dan Mengapa Wajib Mencintai Beliau dan Keluarganya?

Abdullah bin Amr berkata: Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah saw. Aku bermaksud menghapalnya. Tapi orang-orang Quraisy melarangku dan mereka berkata: “Engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah saw? Padahal beliau hanyalah seorang manusia yang berbicara saat marah dan senang.” Aku berhenti menulis. Tetapi kemudian aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah. Ia kemudian menunjuk kepada mulutnya dan berkata: “Tulis saja. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tidak ada yang ke-luar dari sini kecuali kebenaran.”

Kedudukan Nabi dalam al-Quran

Terdapat puluhan ayat di dalam al-Quran yang memuja Nabi Muhammad saw, apakah dalam bentuk pujian langsung, seperti ayat yang menyatakan bahwa Nabi memiliki akhlak yang sangat luhur. Atau dalam bentuk penyebutan sifat-sifat terpuji yang dimiliki Nabi. Berikut beberapa contoh keagungan Rasulullah sebagaimana dalam al-Quran.

1. Keimanan semua rasul kepada Nabi. Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw berkata: Setiap kali Allah mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Nabi Muhammad saw diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama.

Dan ketika Allah mengambil janji dari para nabi: “Aku telah berikan kepada kalian al-kitab dan al-hikmah, maka ketika Rasul itu (Muhammad saw) datang kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada pada kalian, kalian benar-benar harus beriman kepadanya dan membelanya.” Dia (Allah) berkata: “Apakah kalian menerima dan berjanji akan memenuhi perintah-Ku ini?” Mereka berkata: “Ya, kami berjanji untuk melakukan itu.” Dia berkata: “Kalau begitu persaksikanlah dan Aku menjadi saksi bersama kalian.” (QS. 3:81)

2. Khabar gembira tentang kedatangan Muhammad saw. Al-Quran menjelaskan bahwa para penganut Ahlul Kitab tahu betul tentang kedatangan Nabi Muhammad saw, sebagaimana mereka tahu betul siapa anak mereka. Bahkan mereka saling memberi khabar gembira tentang kedatangannya itu (QS. 2:89, 146). Dan itu pula yang dipintakan Nabi Ibrahim as dalam doanya:

Tuhan kami, utuslah pada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (Muhammad) yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka al-kitab dan al-hikmah, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS. 2:129).

3. Penciptaan Nabi Muhammad saw sebelum Nabi Adam as. Tetapi penciptaan itu masih dalam wujud “nur” atau cahaya. Ketika Allah menciptakan Adam, Ia menitipkan nur itu pada sulbi Adam yang kemudian berpindah-pindah dari satu sulbi ke sulbi yang lain hingga sulbi ‘Abdullah, ayah Nabi. Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda:

Allah telah menciptakanku dalam wujud nur yang bersemayam di bawah ‘arasy dua belas ribu tahun sebelum menciptakan Adam as. Maka ketika Allah menciptakan Adam, Ia meletakkan nur itu pada sulbi Adam. Nur itu berpindah dari sulbi ke sulbi; dan kami baru berpisah setelah ‘Abdul Muthalib. Aku ke sulbi ‘Abdullah dan ‘Ali ke sulbi Abu Thalib. Al-Quran menyebutkan bahwa sulbi-sulbi tempat bersemayamnya nur itu adalah sulbi-sulbi orang-orang suci. Ini berarti bahwa orangtua dan nenek moyang Rasulullah sampai ke Nabi Adam as. Istilah al-Quran, al-Sajidîn, orang-orang patuh. Allah berfirman: Dan bertawakallah kepada Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihatmu saat engkau bangun dan perpindahanmu dari sulbi ke sulbi orang-orang patuh (QS. 26:217-219).

4. Nabi Muhammad saw adalah manusia suci. Tidak pernah berbuat kesalahan, apalagi dosa. Namun demikian, ia tetap manusia biasa seperti manusia lainnya, dalam arti bahwa secara biologis tidak ada perbedaan antara Nabi saw dengan yang lain. Allah berfirman dalam QS. 33:33:

“Sesungguhnya yang dikehendaki Allah ialah menjauhkan kamu wahai Ahlul Bait dari segala kotoran dan mensucikan kamu sesuci-sucinya”. Riwayat-riwayat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait pada ayat di atas adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan Nabi Muhammad saw sendiri.

5. Nabi Muhammad selalu dibimbing Allah Swt. Ucapannya, perbuatannya, tutur katanya dan sebagainya, semuanya ; di bawah pengarahan dan bimbingan Allah Swt.

Sesungguhnya dia (Muhammad) tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsu, melainkan semuanya semata-mata adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya (QS. 53:3-4).

6. Nabi Muhammad saw adalah panutan yang sempurna, uswatun hasanah. Allah berfirman:

“Sesungguhnya dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik buat kamu.” (QS.33:21). Karena itu, maka “Apa pun yang dibawanya harus kamu terima dan apa pun yang dilarangnya harus kamu jauhi.” (QS. 59:7)


Foto lama kota "Madinah Al-Munawarrah"
7. Dibukanya rahasia kegaiban kepada Nabi Muhammad saw. Allah berfirman: Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada rasul yang dikehendaki (QS. 72: 26-27). Tentu saja Rasulullah saw berada di urutan paling atas di antara para rasul yang menerima anugrah utama ini.

8. Allah memuji Nabi Muhammad saw dengan berbagai pujian karena keluhuran akhlak-nya (QS. 68:4); kepeduliannya dan kasih sayangnya kepada umat manusia (QS. 9:128) dan pengorbanan diri, tidak mementingkan diri demi kebahagiaan orang lain (QS. 20:2-3). Selain itu Allah Swt memberi perhatian yang khusus kepada Nabi Muhammad saw jika ada sedikit saja “masalah” yang dihadapinya (QS. 93:1-3; 94:1-4).

Nabi Sebagai Manusia Biasa?

Dari sekian ayat yang kita lihat di atas tidak dapat disangkal bahwa Nabi Muhammad saw bukan manusia biasa, dalam arti bahwa kedudukannya sangat-sangat mulia di sisi Allah. Ia telah diciptakan Allah sebelum menciptakan yang lainnya. Nabi telah dipersiapkan membawa amanat-Nya jauh sebelum utusan-utusan lainnya. Bahkan utusan-utusan itu diperintahkan untuk mengimaninya dan mengabarkan kepada umat manusia kedatangannya. Nabi ditetapkan sebagai perantara antara manusia dengan Tuhan, dan sebagainya. Akan tetapi semua ini tidak harus membuat kita memposisikannya sebagai bukan dari golongan manusia, seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi ‘Isa as. Nabi Muhammad saw tetap manusia sebagai-mana manusia lainnya, sebagaimana isyarat al-Quran dalam beberapa ayatnya di atas. Pada diri Nabi Muhammad saw terdapat segala sesuatu yang ada pada manusia, yakni dimensi biologis manusia.

Karena itu Nabi makan, minum, sakit, tidur, berdagang, berkeluarga, senang, sedih, dan sebagainya, seperti umumnya manusia. Al-Quran sengaja menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia, basyar, seperti manusia lainnya untuk membantah alasan penolakan kaum musyrikin terhadap Nabi saw bahwa ia bukan dari golongan malaikat, atau (paling tidak) ‘bekerjasama’ dengan malaikat (QS. 25:7) dan juga mengingatkan kaum Muslimin supaya tidak mengulangi kesalahan seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi Isa yang menganggapnya sebagai Tuhan.

Tetapi, ketika kita mengatakan bahwa Nabi adalah ‘manusia biasa’ seperti manusia lainnya, tidak berarti bahwa kita harus menganggapnya salah, keliru, melanggar, atau segalanya lalu berakhir sesudah beliau wafat. Tidak. Sama sekali tidak demikian. Kesucian, keterpeliharaan dari dosa (ma’sum), hidup abadi bersama Allah sesudah kematian, atau kemampuan berhubungan dengan-Nya sesudah kematian, adalah perkara ruhani yang mungkin saja dicapai oleh manusia asalkan (jika) ia telah mencapai kedudukan ruhani yang begitu tinggi, atau katakanlah mencapai maqam ‘Insan Kamil‘.

Allah Swt memang menciptakan manusia dari unsur tanah, yang menghasilkan dimensi biologisnya. Namun, Allah juga menciptakan unsur lainnya pada manusia, yakni ‘ruh’ Allah, yang justru dapat membuat manusia lebih tinggi dari makhluk mana pun, bahkan dibanding malaikat sekali pun.

Tingginya kedudukan itu terjadi jika — melalui ruh itu — manusia tadi mampu mengatasi unsur biologisnya. Itulah sebabnya mengapa malaikat dan jin atau Iblis diperintahkan untuk sujud kepada Adam atau manusia. Itulah pula mengapa Nabi Muhammad dapat menembus Sidratul-Muntaha, sementara Jibril akan hangus terbakar jika berani mencoba melangkahkan kaki meskipun hanya setapak. Padahal Jibril adalah penghulu para malaikat. Karena Nabi Muhammad telah mencapai derajat kesempurnaan mutlak insani. (Salah satu buku yang memuat kisah perjalanan ini dan sering dibaca pada peringatan Maulid Nabi saw, misalnya, adalah kitab “Samtu ad-Dhirar“, karya Habib Ali Al-Habsyi).


Lukisan miniatur pengembalian Hajar Aswad ke Ka'bah -- salah satu prestasi keadilan dan amanah Nabi saw sejak masih muda.
Kesalahan terbesar pihak yang menolak mengakui kebesaran Nabi Muhammad di atas dan menolak memujanya, bahkan menganggap pelakunya sebagai bertindak berlebih-lebihan dan kultus yang diharamkan, yaitu karena mereka melihat Nabi Muhammad saw dengan kacamata materi.

Mereka hanya melihat Nabi saw sebagai makhluk biologis. Mereka lupa bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih tinggi dari sekadar dimensi biologis atau fisik. Bahkan dimensi ruhani merupakan jati diri manusia yang sesungguhnya.

Melihat seorang hanya dari dimensi biologisnya adalah logika orang-orang kafir. Bukan logika orang-orang beriman. Dengan alasan bahwa para utusan itu ‘hanya manusia seperti mereka’, orang-orang kafir menolak mengakuinya sebagai nabi atau rasul. Di sini, baiklah kita tengok ayat-ayat Qur’an ini:

“Dan tidaklah menghalangi orang-orang (kafir) untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali mereka membuat alasan: Apakah Allah mengutus rasul dari golongan manusia? (QS. 17:94).

Tapi orang-orang beriman berkata: “Kami mengimaninya. Semuanya dari sisi Tuhan kami”. (QS. 3:7).

Selain itu, mereka yang mengaggap maulid itu bid’ah, biasanya karena menyamakannya dengan sebuah tindakan ‘ibadah mahdhah‘ (mah-dhoh) . Padahal perayaan atau peringatan Maulid yang dimeriahkan dengan berbagai kegiatan sebagai tanda sukacita atas kelahiran Rasul saw bukan merupakan ‘ibadah mahdhah‘.

Nah, dalam kaidah Islam, ada aturan penting bahwa dalam segala ibadah mahdhah, maka prinsipnya adalah “semua tidak dibolehkan kecuali yang yang telah ditetapkan.” Contoh ibadah mahdhah itu adalah ibadah dalam rukun Islam yang lima itu (syahadat, shalat, zakat, puasa, haji). Maka, dalam hal ini, siapa pun tidak boleh menambahi sesuatu atau mengurangi sesuatu di dalamnya. Dengan kata lain, tidak boleh ada kreativitas di dalam ibadah mahdhah itu. Sehingga siapa pun tidak boleh, misalnya, menambah jumlah roka’at solat subuh menjadi tiga — karena merasa ingin lebih dekat dengan Allah.

Pasangan ibadah mahdhah adalah ‘muamalah’. Dalam hal ini, prinsipnya semua (kreativitas) diperbolehkan, kecuali yang nyata-nyata dilarang. Muamalah, adalah semua selain ibadah mahdhoh. Contohnya adalah berdakwah lewat telepon, atau membaca solawat dan puji-pujian kepada Nabi saw di masjid pada saat di luar solat, menggambar komik dakwah, atau ketika menunggu imam masuk ke masjid. Nah, yang begitu itu, prinsipnya boleh — bukan bid’ah. Logis kan? Masa orang tidak boleh berkreasi, sepanjang kreativitasnya itu dalam koridor ‘amar ma’ruf nahi munkar’? Masalahnya, mungkin yang suka menuduh bid’ah itu tidak pernah tahu apa yang dibaca pada saat peringatan Maulid di sana sini di seluruh dunia. Bukankah yang dibaca adalah kalimat-kalimat ‘toyyibah‘ (baik, manis), kisah sejarah dan akhlak Nabi saw (agar orang meneladani akhlaknya), dan syair-syair cinta kepada Allah, kepada Nabi saw, keluarga dan sahabat beliau?


Sikap kepada Nabi saw

Berdasarkan beberapa ayat tentang keagungan Nabi Muhammad saw di atas dan beberapa riwayat Nabi, kita dapat melihat betapa Allah menuntut kita untuk menghormati dan mengagungkan rasul-Nya.

Coba perhatikan ayat shalawat (solawat). Adakah perintah yang sama dengan perintah shalawat, yaitu yang didahului dengan pernyataan bahwa Allah dan malaikat-Nya telah melakukannya terlebih dahulu dan oleh karena itu kita pun diperintahkan untuk melakukan-nya, selain shalawat kepada Nabi? Tidak ada. Perintah itu berarti kita harus selalu melihat Nabi dengan penuh ta’dzim (pengormatan) dan agar kita selalu membalas jasa-jasanya.

Oleh karena itu pula, Nabi saw selalu mengingatkan bahwa orang yang tidak mau bershalawat kepadanya adalah bakhil atau kikir. Bahkan orang yang datang ke tanah suci tapi tidak mampir ke Madinah untuk berziarah kepadanya (berarti) telah memutus hubungan silaturrahmi dengannya.


Masa depan di tangan Islam. Berkat jasa Nabi saw milyaran orang di dunia menjadi Muslimin (meski 'Barat' memotretnya secara 'menyeramkan').
Pada ayat tawassul kita bahkan diperingatkan Allah: jika ingin dosa-dosa kita diampuni oleh-Nya harus bertawassul kepadanya. Jika tidak, Allah tidak akan mengabulkan permohonan ampun kita. Allah juga mengingatkan agar kita tidak memperlakukannya sama dengan kita (manusia yang bukan nabi), sebab hal itu dapat menghapus pahala amal ibadah kita (QS. 49:2-3).

Selain itu, kita juga diperingatkan untuk tidak menganggap apa yang dilakukan atau diucapkan Nabi saw lahir karena emosi atau hawa nafsunya. Tapi semuanya atas bimbingan Allah yang tidak pernah salah. Ia tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsunya, melainkan berdasarkan wahyu yang diterimanya (QS. 53:3-4).

Dengan demikian, yang mengagungkan dan memerintahkan kita untuk mengagungkan Nabi Muhammad saw adalah Allah Swt sendiri. Bukan kita. Kita hanya mengikuti perintah dan ajaran Tuhan saja. Lalu mengapa kita harus menentang Allah dan Rasul-Nya, hanya karena takut jatuh dalam hantu “kultus” yang kita ciptakan sendiri (seperti sering dituduhkan kaum Wahhabi-Takfiri)?

Sebenarnya tidak ada kultus; karena kultus ialah melebih-lebihkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pengagungan Nabi Muhammad saw justeru mendudukkan posisi Nabi Muhammad saw sebagaimana mestinya, seperti diperintahkan al-Quran. Justru jika kita tidak melakukan itu, dikhawatirkan telah menzalimi beliau. Sesungguhnya orang-orang yang mengganggu Allah dan rasul-Nya dikutuk oleh Allah di dunia maupun di akhirat dan Allah siapkan baginya siksa yang menghinakannya (QS. 33:57).

1. Allah bershalawat kepada Nabi. Demikian juga seluruh malaikatnya. Karena itu orang-orang yang beriman diperintahkan bershalawat kepadanya (QS. 33:56). Arti shalawat Allah kepada Nabi adalah ‘penganugerahan rahmat dan kasih sayang-Nya’; shalawat malaikat adalah permohonan limpahan rahmat-Nya. Demikian pula shalawat orang-orang beriman.

2. Orang-orang beriman diperintahkan untuk tidak memperlakukan Rasulullah sebagaimana perlakuan mereka terhadap sesama mereka. Jika berbicara kepada Rasul harus dengan suara yang pelan, tidak boleh teriak-teriak, karena hal itu akan menghapus pahala amal mereka (QS. 49:2-3).

3. Allah akan melakukan apa saja demi menyenangkan hati Nabi. “Dan tuhanmu akan memberimu sehingga membuatmu senang” (QS. 93:5). Ayat ini menunjukkan betapa Allah amat mencintai Nabi-Nya. Ia akan memberikan apa saja yang diinginkan Nabi dan akan melakukan apa saja demi menyenangkan hati ‘kekasih’-Nya itu. Dan salah satu anugrah Allah yang paling besar kepada Nabi ialah, wewenang “memberi syafaat” kepada umatnya yang berdosa. Bukan saja di akhirat, tapi juga di dunia, yaitu dalam bentuk pengabulan doa yang disampaikan oleh Nabi untuk umatnya, baik ketika Nabi masih hidup maupun sesudah wafatnya.

4. Nabi saw ditetapkan sebagai perantara (wasilah) antara diri-Nya dengan manusia. Bahkan merupakan salah satu syarat terkabulnya doa. Kami tidak utus seorang rasul kecuali untuk ditaati, dengan seizin Allah. Dan seandainya mereka mendatangimu ketika mereka berbuat dosa, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun buat mereka, pastilah mereka dapati Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih (QS. 4:64). Tawassul kepada Nabi Muhammad saw ini sudah dilakukan para nabi dan orang-orang salih jauh sebelum kelahirannya.

Banyak riwayat yang mengatakan bahwa Adam dan Hawa telah bertawassul kepada Nabi Muhammad saw saat mereka berdua dikeluarkan dari surga. Tatkala Nabi Adam as dikeluarkan dari surga, ia memohon ampun kepada Allah atas perbuatanya. Dalam permohonannya itu, ia bertawassul melalui Nabi Muhammad saw: “Ya Allah, melalui kebesaran Muhammad, aku mohon ampun pada-Mu kiranya Engkau ampuni dosaku.”

Allah Swt bertanya kepada Adam, “Dari mana kamu tahu Muhammad, padahal Aku belum menciptakannya?”
Adam berkata, “Tuhanku, ketika Engkau cipta-kan aku dengan tangan-Mu dan Engkau tiupkan ruh-Mu dalam diriku, aku mengangkatkan kepalaku dan kulihat di pilar-pilar Arsy tertulis Lâ ilâha illallâh Muhammad Ra-sûlullâh. Aku tahu Engkau tidak akan menyertakan nama hamba-Mu kepada nama-Mu kecuali yang paling Engkau cintai.”
Allah Swt berkata, “Engkau benar, Adam. Muhammad adalah hamba yang paling Aku cintai. Dan karena engkau memohon ampun melaluinya, maka Aku kabulkan permohonanmu. Hai Adam, kalau bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakan-mu.”

Untuk keterangan lebih lengkap tentang hal ini, baik juga membaca beberapa artikel ilmiah yang antara lain menuliskan kewajiban mencintai Nabi dan keluarga (ahlul bait)-nya; antara lain berdasarkan dalil al-qur’an dan hadis berikut ini (maaf masih dalam bahasa Inggris, belum diterjemahkan):

Verily Allah only desires to keep away the uncleanness from you, O People of the House (Ahl al-Bayt) and to purify you a thorough purifying [Verse of Purification from Qur’an 33:33]
Prophet Muhammad (s) was asked by his Companions: “How should we invoke blessings for you?” … He said: “Say: ‘O Allah! Send Your blessings on Muhammad and the Family of Muhammad, as You sent Your blessings on Abraham and on the Family of Abraham, for You are the Most Praiseworthy, the Most Glorious.’” [Sahih al-Bukhari, volume 4, book 55, number 589

Saturday, January 28, 2012

Adolf Hitler Orang Islam?

Apa yang bakal anda baca ini ialah sebuah email yang saya terima dari seorang kawan dari Arab Saudi. saya terjemahkan ke dalam Bahasa Melayu dan saya kongsi bersama anda semua.
Aku berbual dengan seorang ahli keluarga yang sedang menamatkan tesis PhD beliau dan aku amat terperanjat apabila beliau nyatakan tesis beliau berkaitan Adolf Hitler, pemimpin Nazi. Maka aku katakan “Takkan dah habis semua tokoh Islam di dunia ini sampai kamu memilih si bodoh ini dijadikan tajuk?”

Beliau ketawa lalu bertanya apa yang aku ketahui tentang Hitler.

Aku lalu menjawab bahawa Hitler seorang pembunuh yang membunuh secara berleluasa dan meletakkan German mengatasi segala-galanya…lalu dia bertanya dari mana sumber aku. Aku menjawab sumberku dari TV pastinya.

Lalu dia berkata : ” Baiklah, pihak British telah melakukan lebih dahsyat dari itu…pihak Jepun semasa zaman Emperor mereka juga sama…tapi kenapa dunia hanya menghukum Hitler dan meletakkan kesalahan malahan memburukkan nama Nazi seolah-olah Nazi masih wujud hari ini sedangkan mereka melupakan kesalahan pihak British kepada Scotland, pihak Jepun kepada dunia dan pihak Afrika Selatan kepada kaum kulit hitam mereka?”

Aku lantas meminta jawapan dari beliau. Beliau menyambung : “Ada dua sebab -

1. Prinsip Hitler berkaitan Yahudi, Zionisme dan penubuhan negara Israel. Hitler telah melancarkan Holocaust untuk menghapuskan Yahudi kerana beranggapan Yahudi akan menjahanamkan dunia pada suatu hari nanti.

2. Prinsip Hitler berkaitan Islam. Hitler telah belajar sejarah kerajaan terdahulu dan umat yang lampau, dan beliau telah menyatakan bahawa ada tiga tamadun yang terkuat, iaitu Parsi, Rome dan Arab. Ketiga-tiga tamadun ini telah menguasai dunia satu ketika dulu dan Parsi serta Rome telah mengembangkan tamadun mereka hingga hari ini, manakala Arab pula lebih kepada persengketaan sesama mereka sahaja. Beliau melihat ini sebagai satu masalah kerana Arab akan merosakkan Tamadun Islam yang beliau telah lihat begitu hebat satu ketika dulu.

Atas rasa kagum beliau pada Tamadun Islam, beliau telah mencetak risalah berkaitan Islam dan diedarkan kepada tentera Nazi semasa perang, walaupun kepada tentera yang bukan Islam.


Beliau juga telah memberi peluang kepada tentera German yang beragama Islam untuk menunaikan solat ketika masuk waktu di mana jua…bahkan tentera German pernah bersolat di dataran Berlin dan Hitler ketika itu mennggu sehingga mereka tamat solat jemaah untuk menyampaikan ucapan beliau…
 
Hitler juga sering bertemu dengan para Ulamak dan meminta pendapat mereka serta belajar dari mereka tentang agama dan kisah para sahabat dalam mentadbir…

Hitler bersama Syeikh Amin Al-Husainiy

Beliau juga meminta para Sheikh untuk mendampingi tentera beliau bagi mendoakan mereka yang bukan Islam dan memberi semangat kepada yang beragama Islam untuk membunuh Yahudi…

Seorang tentera Nazi melekatkan gambar Mufti Al-Quds

Semua maklumat ini ialah hasil kajian sejarah yang dilakukan oleh saudara aku untuk tesis PhD beliau dan beliau meminta aku tidak menokok tambah apa-apa supaya tidak menyusahkan beliau untuk membentangkannya nanti. Beliau tidak mahu aku campurkan bahan dari internet kerana aku bukan pakar bidang sejarah. Tetapi gambar-gambar yang ada di sini sudah lama tersebar dan semua orang boleh melihatnya di internet.
Aku juga sedaya upaya mencari maklumat tambahan di internet dan berjumpa beberapa perkara :

1: Pengaruh Al-Quran di dalam ucapan Hitler.
Ketika tentera Nazi tiba di Moscow, Hitler berhajat menyampaikan ucapan. Dia memerintahkan penasihat-penasihatnya untuk mencari kata-kata pembukaan yang hebat tak kira dari kitab agama, kata-kata ahli falsafah ataupun dari bait syair. Seorang sasterawan Iraq yang bermastautin di German mencadangkan ayat Al-Quran :

(اقتربت الساعة وانشق القمر) bermaksud : Telah hampir Hari Kiamat dan bulan akan terbelah…
Hitler berasa kagum dengan ayat ini dan menggunakannya sebagai kalam pembukaan dan isi kandungan ucapan beliau. Memang para ahli tafsir menghuraikan bahawa ayat tersebut bermaksud kehebatan, kekuatan dan memberi maksud yang mendalam.

Perkara ini dinyatakan oleh Hitler di dalam buku beliau Mein Kampf yang ditulis di dalam penjara bahawa banyak aspek tindakan beliau berdasarkan ayat Al-Quran, khususnya yang berkaitan tindakan beliau ke atas Yahudi…

2. Hitler bersumpah dengan nama Allah yang Maha Besar
Hitler telah memasukkan sumpah dengan nama Allah yang Maha Besar di dalam ikrar ketua tenteranya yang akan tamat belajar di akademi tentera German.

” Aku bersumpah dengan nama Allah (Tuhan) yang Maha Besar dan ini ialah sumpah suci ku,bahawa aku akan mentaati semua perintah ketua tentera German dan pemimpinnya Adolf Hitler, pemimpin bersenjata tertinggi, bahawa aku akan sentiasa bersedia untuk berkorban dengan nyawaku pada bila-bila waktu demi pemimpin ku”

3. Hitler telah enggan meminum beer (arak) pada ketika beliau gementar semasa keadaan German yang agak goyah dan bermasalah. Ketika itu para doktor mencadangkan beliau minum beer sebagai ubat dan beliau enggan, sambil mangatakan ” Bagaimana anda ingin suruh seseorang itu minum arak untuk tujuan perubatan sedangkan beliau tidak pernah seumur hidupnya menyentuh arak?”

Ya, Hitler tidak pernah menjamah arak sepanjang hayat beliau…minuman kebiasaan beliau ialah teh menggunakan uncang khas…

Bukanlah tujuan penulisan ini untuk membela apa yang dilakukan oleh Hitler, tetapi ianya bertujuan untuk menyingkap apa yang disembunyikan oleh pihak Barat. Semoga kita semua beroleh manfaat.

Thursday, October 27, 2011

Perlaksanaan Hukum Hudud - Boleh Atau Tidak?

Siapa kata UMNO TOLAK Hukum Hudud? UMNO cuma nak laksanakan hudud secara menyeluruh iaitu termasuk golongan bukan Islam pun tak terkecuali..tapi PAS tak setuju. PAS hanya akan laksanakan hukum hudud untuk umat Islam sahaja. Macam mana nak laksanakan hudud sedangkan negara kita sekarang menggunakan undang-undang sivil (common law)? Jika hudud dilaksanakan, kedua-dua jenis undang-undang ini tak sama antara satu sama lain..maksudnya jenis hukuman pun tak sama walaupun kesalahan yang dilakukan adalah sama.

Memanglah di zaman Rasulullah s.a.w dulu menggunakan hukum hudud mengikut Al-Quran manakala kaum yahudi pula menggunakan undang-undang / hukuman mengikut kitab Taurat. Walaupun begitu, kedua-dua hukuman ini (antara Al-Quran dan kitab Taurat) menggunakan kaedah serta hukuman yang sama. Contohnya dalam kes zina antara lelaki dan wanita yang sudah berkahwin, mengikut kitab Taurat mereka akan direjam di mana ianya adalah bersamaan dengan hukuman dalam hukum hudud. Jadi, walaupun kaum Yahudi menggunakan hukuman mengikut kitab Taurat, tapi hukumannya sama seperti hukuman dalam hukum hudud..

Jika hukum hudud digunapakai di Malaysia, maksudnya kita akan ada dua jenis hukuman yang berbeza. Orang Islam yang melakukan zina (bagi yang sudah berkahwin) akan dihukum rejam, manakala orang bukan Islam yang berzina pula mungkin akan didenda ataupun tak kena apa-apa denda pun. Masalah ni akan menjadi lebih rumit bila pasangan zina itu adalah penganut agama Islam dan pasangannya pula bukan beragama Islam. Pasangan yang bukan Islam itu mungkin tak dikenakan hukuman berat pun, dan pasangannya pula yang beragama Islam akan direjam sampai mati (jika pesalah sudahpun berkahwin). Di sini kita akan dapat lihat masalahnya bila tiada asas hukuman yang sama.

Oleh itu, hanya ada satu cara untuk laksanakan hukum hudud secara menyeluruh, kita kena meminda undang-undang sivil terlebih dahulu yakni kita perlu selaraskan dahulu hukuman sivil selari dengan hukuman hudud. Barulah nanti wujud persamaan dari segi hukuman. Masalahnya, mahukah golongan bukan Islam di kabinet seperti MCA, MIC, Gerakan dan DAP menerima cadangan pindaan ini? Adakah hak meminda undang-undang di Malaysia terletak di tangan menteri-menteri UMNO secara total? Tentulah tidak kan? Dan jangan ingat semua penyokong-penyokong / pemimpin PKR akan bersetuju untuk melaksanakan hukum hudud sebabnya PKR mengamalkan dasar liberal yang memberi kebebasan kepada rakyat untuk memilih agama.

Kita harus ingat, segala pindaan undang-undang atau perlembagaan negara perlu mendapat sokongan majoriti di parlimen termasuk sokongan dari MCA, Gerakan, DAP, MIC dan lain-lain dan jika sokongan majoriti diperolehi, barulah kita boleh meminda undang-undang. UMNO tidak boleh sesuka hati meminda undang-undang tanpa sokongan majoriti di kabinet.

Kalau negara kita ini semuanya terdiri dari orang Islam, memanglah tidak menjadi suatu masalah langsung jika undang-undang hudud dilaksanakan. Masalahnya negara kita terdiri dari pelbagai kaum, etnik dan agama. Memang benar, zaman nabi pun ada kaum kafir, tapi golongan kafir zaman nabi iaitu kaum yahudi pun guna undang-undang mengikut kitab Taurat. Jenis hukuman kedua-duanya antara hudud dan hukuman mengikut Taurat adalah sama. Kalau kesalahan yang dilakukan adalah sama; jika dalam kitab Taurat menjatuhkan hukuman bunuh, hudud pun sama juga. Sebab itu lah tiada masalah ketika di zaman rasulullah s.a.w.

Ada yang bertanya pula kenapa hukum hudud nak dikenakan ke atas golongan bukan Islam sedangkan ibadah solat tidak diwajibkan ke atas mereka. Nampaknya pembangkang tak belajar tentang rukun Islam iaitu :-

Para ulama menetapkan setiap umat Islam mesti mematuhi 5 perkara asas dalam Islam yang dikenali sebagai Rukun Islam yang terdiri daripada lima perkara iaitu:-

1. Mengucap dua kalimah syahadah
2. Menunaikan solat fardu lima waktu
3. Berpuasa pada bulan Ramadan
4. Membayar zakat - Zakat fitrah, Zakat harta
5. Mengerjakan Haji di Mekah bagi mereka yang mampu

Jadi, solat hanya wajib untuk orang Islam sahaja, bukan Islam tak diwajibkan pun. Hukum hudud adalah undang-undang untuk mencegah manusia dari melakukan maksiat dan segala kejahatan..

Perlu direnungkan juga tentang kaedah membuktikan seseorang itu bersalah atau pun tidak. Kita tak nak nanti ada yang tak bersalah tapi dijatuhkan hukuman bersalah. Ini adalah kerana fitnah amat senang untuk dilakukan ketika ini memandang kecanggihan teknologi yang dapat menewaskan kemampuan fikiran kita untuk menilai yang mana satukah fakta / bukti yang benar dan yg mana satu bukti / fakta yang direka-reka sahaja. Inilah yang kita selalu cakap kaedah perlaksanaan hukum hudud. Rakyat nak tahu mcm mana kaedah melaksanakannya, kaedah pembuktian dan juga kaedah hukuman. Sampai sekarang PAS sendiri pun tak berani nak jelaskan kepada rakyat tentang kaedah perlaksanaan hukum hudud.

Cuba bayangkan dah berapa lama PAS telah mencanang cerita kununnya UMNO menolak hudud sedangkan PAS sendiri pun taktau kaedah nak laksanakan hudud. Baru sekarang sahaja Hadi Awang mengaku kalau nak laksanakan hudud perlukan masa, kena kaji, ekonomi rakyat perlu stabil dulu. Jadi, dulu-dulu PAS tak tahu apa satu la? Main canang-canang nak laksana hudud dalam pilihanraya je lah? Kesian, rakyat ditipu lagi oleh pemimpin-pemimpin PAS yang hanya gilakan kuasa..

Persoalan :

1. Kenapa Khalifah Umar Al-Khatab tidak memberikan zakat kepada muallaf qulubhum pada zamannya walaupun jelas ada nas dlm ayat Al-Quran mengenai hak mualaf tersebut?

2. Kenapa Khalifah Umar Al-Khatab tidak melaksanakan hukuman hudud pada masa Madinah dalam kesusahan / kemiskinan? Bukan sahaja UMNO, malah Khalifah Umar Al Khatab sendiri tidak melaksanakan hukum hudud ketika Madinah dilanda kemiskinan..jadi, adakah Khalifah Umar boleh dikatakan menolak hukum Allah? Tahukah anda apakah hubungan Khalifah Umar dengan Rasulullah s.a.w? Saya tak perlu sebutkan di sini lagi, sebabnya semua org tahu kan, jika Khalifa Umar sendiri tidak laksanakan hudud ketika itu, kenapa UMNO yang tidak laksanakan hudud dikatakan menjadi kafir? Siapa PAS nak jatuhkan hukum?

3. Dalam pembahagian harta rampasan perang, jelas dlm Al Quran menyatakan ia perlu dibahagikan kepada 5 bahagian, tapi kenapa beliau hanya berikan 1/5 kpd baitulmal sahaja, dan selebihnya diberikan kpd sebahagian tentera sahaja?

4. Persoalan terakhir, adakah Khalifah Umar membelakangkan Al-quran dan Sunnah? Puak PAS silalah jawab!

Kita sedia maklum bahawa UMNO hanya ada 77 kerusi parlimen daripada 222 kerusi parlimen yang ada di Malaysia. Bagaimana UMNO nak mendapatkan sokongan 2/3 di parlimen? Secara kasar, 2/3 daripada 222 kerusi adalah bersamaan dgn 148 kerusi sedangkan UMNO ketika ini hanya ada 77 kerusi sahaja? Kalau dicampurkan dengan jumlah kerusi parlimen UMNO, PAS dan PKR (77+23+25) baru berjumlah 125 kerusi parlimen sahaja..maksudnya masih memerlukan 23 kerusi untuk menyokong perlaksanaan hukum hudud..jadi, adakah kegagalan mendapat baki 23 kerusiini adalah salah UMNO?? renung-renungkan, jangan main cakap ikut sedap mulut je.

Akhir sekali, jika negara kita melaksanakan hukum hudud hanya melibatkan orang-orang Islam, manakala orang-orang bukan Islam pula menggunakan hukuman mengikut undangundang sivil, adakah jenayah tidak akan berlaku langsung di kalangan golongan bukan Islam? Adakah negara kita tidak akan ada lagi jenayah seperti berzina, berkhalwat, merompak, menyamun, merogol dan sebagainya di kalangan orang-orang bukan Islam? Ini adalah kerana golongan bukan Islam tidak dikenakan hukuman berat sama seperti hukuman hudud. Seterusnya sudah pastilah mereka tiada rasa takut langsung untuk melakukan lagi aktiviti jenayah ataupun maksiat. Sudah pasti golongan bukan Islam akan mentertawakan orang-orang Islam kerana mereka (orang2 bukan Islam) buat salahpun takkan kena hukuman berat sedangkan kalau orang-orang Islam buat salah akan dikenakan hukuman berat. Pada masa ini akan wujud gejala ejek-mengejek, rasa tidak puas hati di kalangan umat Islam dan tidak mustahil akan wujud suasana ketegangan kaum dan agama.

Kesimpulannya; jenayah tetap akan berlaku walaupun hukum hudud telah dilaksanakan. Ini adalah kerana hukum hudud hanya dilaksanakan untuk umat Islam sahaja. Alasannya, hanya orang-orang Islam sahaja yang takut untuk melakukan maksiat ataupun jenayah, sedangkan golongan bukan Islam masih bebas melakukannya sebab tidak akan dikenakan hukuman berat pun. Sedarkah anda bahawa di Malaysia ni wujud gangster-gangster yang terdiri dari golongan bukan Islam? Oleh yg demikian, hudud tidak akan dapat membendung golongan bukan Islam dari melakukan maksiat serta aktiviti jenayah..

Sunday, October 23, 2011

Kisah Dan Fakta Sebenar Di Sebalik Isu Jais – Gereja DUMC

PENDAHALUAN

Kisah ini adalah penjelasan lengkap mengenai operasi pemeriksaan 12 orang Islam di gereja yang dijalankan pada 2 ogos 2011 beralamat di Dewan 3, Damansara Utama Methodist Church (dream center) jalan 13/1,seksyen 13 ,46700 Petaling Jaya, Selangor Darul Ehsan.

LATAR BELAKANG

Pemeriksaan dibuar berdasarkan maklumat awam yang mendakwa berlakunya jemputan beberapa orang Islam ke majlis berbuka puasa yang dinamakan ‘thanksgiving diner program itenary’ seperti alamat di atas.
Tindakan berdasarkan seksyen 10 enakmen jenayah syariah (negeri Selangor) tahun 1955 iaitu menghina atau menyebabkan dipandang hina agama Islam.
Siasatan juga dibuat mengikut enakmen agama bukan islam (kawalan perkembangan di kalangan orang Islam ) negeri Selangor tahun 1988.
Program ini disyaki bertujuan untuk menyambut orang Islam berbuka puasa dan meraikan thanksgiving.
Operasi ini disertai oleh 13 pegawai penguatkuasa agama jabatan agama Islam Selangor dibantu oleh sepasukan polis diraja Malaysia seramai 20 orang daripada IPD Petaling Jaya dan Sea Park.

PERLAKSANAAN OPERASI

Taklimat dibuat di Pejabat Jais pada jam 8.40 malam
Bergerak ke lokasi dan tiba jam 9.30 malam.
Tiba di lokasi keadaan di kawasan tersebut adalah tenang dan anggota terus bergerak ke Dewan 3.
Jam 9.45 anggota masuk ke dewan. 100 orang ada di dalam dewan.
Semasa pemeriksaan, kelihatan seorang pemuda telah melakukan pengucapan awam di atas pentas, di depan tetamu yang hadir.
Anggota didatangi oleh wanita bernama tag ‘sofea’ dan meminta anggota membuat perbincangan di luar dewan.
Anggota PDRM dan Jais yang tela memasuki dewan diminta keluar sambil diberi arahan untuk menghormati majlis tersebut kerana dihadiri oleh beberapa orang kenamaan. Selain itu, mereka menyatakan bahawa tempat tersebut adalah tempat persendirian dan mereka mempunyai hak ke atas kawasan.
Sedikit pertelingkahan berlaku antara anggota dan penganjur.
Anggota telah meminta buku pendaftaran peserta program untuk memeriksa kehadiran orang Islam di majlis tersebut. Pada awalnya, penganjur memberitahu tiada orang Islam hadir di majlis tersebut.
Maklumat pendaftaran diperolehi tanpa kerjasama dari penganjur. anggota akhirnya memperolehi tentatif program. Terdapat di dalam tentatif tersebut nyanyian lagu ‘alhamdulillah dan allahuakbar’.
Terdapat juga satu borang kuiz Islam yang disyaki diedarkan kepada peserta yang hadir.
Sementara itu, anggota yang menjaga pintu dibelakang premis mendapati beberapa orang yang disyaki orang Islam cuba dibawa keluar oleh penganjur melalui pintu belakang.
Setelah berbincang selama hampir sejam, mereka bersetuju untuk membenarkan pemeriksaan dibuat selepas majlis tamat dan pemeriksaan ke atas individu dibuat selepas peserta keluar dari dewan.

12 ORANG ISLAM YANG DIKENALPASTI

1) Nadeane binti Che Mohd Salleh (Sofea) .
ic 79xxxx-01-6094
2) Muhammad Khairul Dhillon bin Abdullah
ic 69xxxx-08-6039
3) Ina Reima Fitriza binti Mahadzir
ic 85xxxx-71-5018
4) Ade Andrian Putra bin Mahadzir
ic 94xxxx-02-5609
5) Nea Reima Mareana binti Mahadzir
ic 90xxxx-02-5778
6) Rasyidah binti Abd Razak
ic 77xxxx-01-5908
7) Nur Umrah binti Abd Razak
ic 95xxxx-01-6002
8) Mohd Haslan bin Bob Hasnan
ic 80xxxx-10-5045
9) Faridah binti Abdul Rahman
ic 71xxxx-12-5478
10) Nur Al Ashikin bt Shaikh Dawood
72xxxx-10-5072
11) Faridah bt Abdul Latep
ic 72xxxx-71-5256
12) Sahrunida bt Assad
ic 81xxxx-08-6246
Terdapat ibu bapa yang beragama islam membawa anak-anak kecil.

ELEMEN YANG MENIMBULKAN SYAK

Jemputan secara tertutup walaupun peserta yang ingin hadir itu di kalangan orang yang bukan Islam.
Peserta Islam (3 orang) dibawa keluar jalan belakang secara senyap.
Nyanyian ‘alhamdulillah dan allahuakbar’ dilakukan di tempat yang tidak sepatutnya (gereja).
Soalan kuiz Islam yang diberikan kepada peserta yang hadir.
Majlis tersebut disyaki bertujuan untuk menarik orang islam kerana terdapat ciri-ciri tarikan seperti ;
- bunga manggar diletakkan di pintu masuk dewan.
-baju yang dipakai oleh bukan islam adalah baju kebaya,kebangsaan dan kurung.
-cebisan soalan kuiz yang dikoyakkan oleh penganjur.
-majlis diadakan di premis kristus.
-salah seorang peserta ditanya lisan oleh anggota penguatkuasa berhubung agamanya. jawapannya ‘i believe in god’.

FAKTA TAMBAHAN

Tiada serbuan dilakukan oleh anggota, sebaliknya rundingan.

Pendedahan Kisah Gereja DUMC Memurtadkan 12 Orang Islam Yang Terdesak Atas Nama Kehidupan

Pendedahan Kisah Gereja DUMC Memurtadkan 12 Orang Islam Yang Terdesak Atas Nama KehidupanOctober 14, 2011

Posted by membelaislam in Article 11, Hina Islam, Interfaith Council (IFC), Rights of Muslims.
trackback
sumber:http://bahterasamudera.blogspot.com

Gerakan memurtadkan orang Islam terbongkar apabila pihak Jabatan Agama Islam Selangor membuat serbuan ke atas gereja Damansara Utama Methodist Church (DUMC). Di sini kami ingin mendedahkan gerakan dan dalang di sebalik gerakan kristianisasi terhadap orang Islam, pendedahan ini telah diperolehi daripada 2 orang yang berada di waktu JAIS membuat serbuan pada malam Majlis Thanks Giving Dinner yang telah diadakan di Gereja tersebut.

Pendedahan yang di buat oleh - RASIDAH BT AB. RAZAK. Beliau telah mula diperkenalkan kepada seorang lelaki Cina yang bernama RAYMOND KOH dalang yang bertanggungjawab di atas kerja-kerja menyebarkan dakyah kristian pada orang-orang Islam, dia menjalankan kerja-kerja ini bersama isterinya yang bernama SUZANA@LIEW SOW YOKE kedua-dua mereka adalah ahli HARAPAN KOMUNITI yang menguruskan tapak kompleks gereja DUMC tersebut. Pasangan suami isteri ini meletakkan sasaran 1 hari 1 orang, mereka yang berjaya dikristiankan oleh mereka akan diperalatkan untuk mengenal pasti sasaran seterusnya untuk dipengarauhi. Juga difahamkan bagi setiap orang Islam yang berjaya dikristianisasikan, pasangan ini akan menerima ganjaran berjumlah diantara RM30,000-RM40,000 ke dalam akuan peribadi mereka dari pertubuhan kristian berpengkalan di Australia.
Semenjak dikenalkan pada pasangan suami isteri ini pada tahun 2009, Rasyidah telah berjaya di pengaruhi oleh mereka, dan menyertai Harapan Komuniti dan sepajang penglibatannya di dalam pertubuhan tersebut, pasangan suami isteri ini banyak membantu dari segi moral, spiritual dan kewangan. Mengikut beliau, Raymond Koh adalah seorang yang pemurah dan sangat mudah untuk membantu dengan bantuan kewangan sehingga kehidupan beliau menjadi sangat selesa tanpa masalah keawangan.

Dengan itu hubungan beliau terhadap pasangan suami isteri itu sangat rapat dan menjadi orang kepercayaan beliau, dan begitu juga beliau di anggap orang kepercayaan Raymond Koh dan isterinya. Pada pertengahan Tahun 2010, Rasyidah bersama 5 orang Islam telah dibaptiskan oleh Raymond Koh, isterinya Suzana dan saorang pastor yang tidak di kenali di sebuah kolam renang berhampiran kawasan perindustrian di Rawang, Selangor.

Mengikut pengalaman Rasyidah, pada setiap penghujung tahun, Raymond Koh bersama isterinya akan organise trip ke Genting Highland untuk mereka yang telah berjaya dipengaruhi di sebuah Villa yang di percayai milik Harapan Komuniti. Pada kebiasaannya jumlah yang akan turut serta dalam rombangan ini lebih kurang 100 orang, dan 50% dari jumlah ini terdiri dari orang-orang Melayu. Dan semasa di situ ceramah-cerama mengenai fahaman kristian akan diadakan disertai kupasan dan petikan dari kitab Injil.

Rasyidah telah dicalunkan oleh Raymond Koh untuk menghadiri kursus menjadi pastor di Sabah yang akan berlansung pada bulan Oktober selama 3 bulan.

Pendedahan yang kedua diperolehi daripada JOSHUA@ JAMALUDDIN BIN OTHMAN. Beliau telah pertama kali menemui Raymond Koh semasa dia tinggal sementara di asrama FAR EASTERN BIBLE COLLEGE (FEBC) di Singapura bersama Raymond Koh ketika menghadiri persidangan ‘OPERATION MOBILIZATION’ (OM) di sana. Pada Dis 1985 hingga Mei 1986, Joshua@ Jamaluddin bin Othman selepas pulang ke Malaysia telah tinggal di rumah Raymond Koh selama 6 bulan di alamat, Jalan SS1/1B, Petalaing jaya, Selangor, yang juga merupakan pejabat OM Cawangan Malaysia.

Aktiviti-aktiviti Joshua semasa itu adalah membantu menjaga urusan OM seperti hantar surat dan menjual buku-buku kristian ke gereja-gereja di seluruh Kuala Lumpur dan Petaling Jaya dan juga menghadiri kelas ‘PERHIMPUNAN DOA’ yang di adakan setiap Malam Isnin yang dipimpini oleh Raymond Koh sendiri, antara agenda perhimpunan doa adalah nyanyian lagu rohani dan membaca bible. Mei 1986, Joshua berpindah keluar dari rumah setelah Raymond Raymond berkawin dan punyai anak.

Pendedahan ketiga – di buat oleh PHILIPS CHEONG @ CHENG AH KOW pada tahun 1984, sering mengadakan perjumpaan ‘PRAYERS GROUP FOR NEGLECTED PEOPLE (NPs) di First Baptist Church, Jalan Pantai, Petaling Jaya, yang turut dihadiri oleh Raymond Koh dan pada tahun 1985 beliau telah dikenalkan kepada Joshua oleh Raymond Koh. Dan pada tahun 1986 dipelawa oleh Raymond Koh untuk memberi ceramah mengenai ‘UNDERSTANDING ISLAM’ di sebuah gereja di Batu Pahat, Johor.
KENYATAAN JOSHUA @ JAMALUDDIN OTHMAN, HILMY HJ. MOHAMED NOR DAN PHILIP CHEONG MENDAKWA 3 INDIVIDU DALAM ISU DUMC ANTARA MEREKA YANG TERLIBAT DALAM GERAKAN KRISTIANISASI. MEREKA IALAH :-
1. RAYMOND KOH
2. SUZANA @ LIEW SOW YOKE (ISTERI RAYMOND KOH)
PASTOR DUMC DANIEL HO
KENALI DAN CAM LAH MUKA-MUKA DIATAS INI, SEKIRA ANDA DI HAMPIRI MEREKA ATAS DASAR MEMBERI BANTUAN, INGAT AKAN AGENDA YANG TERSIRAT UNTUK MEMURTADKAN UMAT ISLAM.




SASARAN
RAYMOND KOH – Dalang gerakan kristianisasi ke atas orang-orang Melayu Islam dan meletakkan sasaran 1 hari 1 orang.

SASARAN MEREKA IALAH :-
a) Ibu tunggal,
b) Mualaf,
c) Miskin,
d) Pengidap hiv,
e) Mengandung tanpa bapa; dan
f) Sesiapa sahaja yang boleh dieksploit dengan wang ringgit.
PREMIS KRISTIANISASI DI SEKITAR PETALING JAYA DAN SUBANG JAYA, DI SELANGOR
Nagadaya Construction Sdn Bhd No. 1 Jalan SS4D/2, Taman Dagang, PJ, Selangor
NO. 45, Jalan SS5/2, Petaling Jaya, Selangor
NO. 5, Jalan PJS 10/16, Taman Subang Indah, Subang Jaya, Selangor
NO. 65, Jalan SS23/33, Taman Megah, Petaling Jaya, Selangor
DARI 3 OGOS HINGGA 20 SEP 2011, 189 LAPORAN POLIS OLEH PELBAGAI PIHAK KHUSUSNYA NGO ISLAM MENGGESA SIASATAN DIBUAT TERHADAP DUMC.

NEGERI
Jumlah
PERLIS
-
15
KEDAH
-
15
PULAU PINANG
-
2
PERAK
-
26
SELANGOR
-
59
KUALA LUMPUR
-
2
N. SEMBILAN
-
0
MELAKA
-
9
JOHOR
-
3
PAHANG
-
23
TERENGGANU
-
3
KELANTAN
-
17
SABAH
-
13
SARAWAK
-
2
JUMLAH
-
189

Pastor Daniel Ho tidak bersetuju mca yg bercadang untuk mengadakan protes di DUMC kerana tidak berminat dengan kunjungan parti itu;

Sebagai langkah untuk melindungi penglibatan pihak tertentu:-

i) wujud usaha untuk memujuk Sultan Selangor supaya melihat secara serius masalah yang wujud ekoran tindakan JAIS dan berpendapat ia akan memberi kemenangan kepada kerajaan negeri Selangor sekiranya baginda ‘at least mildly reprimand the reckless JAIS action and instruct officers to be sensitive”;
ii) mewujudkan portfolio keagamaan di bawah pejabat Menteri Besar;
iii) inisiatif mempromosi persefahaman antara agama dan dialog atau aktiviti bersama antara Islam, kristian/buddha dan lain-lain agama. Sebagai contoh penganjuran sukan di antara AJK surau/masjid dengan gereja atau aktiviti perkhemahan disertai remaja Islam/kristian dan dipertanggungjawabkan kepada Saari Sungib dan Fuziah Salleh. Melalui initiatif itu, Pakatan Rakyat boleh menapis persepsi negatif yang timbul dan pada masa sama menunjukkan PR mempunyai penyelesaian jangka panjang terhadap masalah tersebut;
iv) PR membuat reformasi secara berhati-hati terhadap sistem yang ada sekarang khususnya bidangkuasa JAIS yang bukan dikuasai oleh kerajaan Selangor tetapi di bawah Sultan sebagai Ketua Agama Islam; dan
v) Teresa Kok bimbang tentang isu gereja ini dan berpendapat DAP tidak perlu menyatakan pendirian kerana pada akhirnya ia akan memberi kesan kepada PR secara keseluruhan terutamanya dalam isu penukaran agama. Perkara yang terbaik bagi DAP – pass the bug to PAS dan PKRto do the fighting’;
DUMC bergerak secara haram.
Pemimpin PR Selangor telah mengarahkan MBPJ supaya membatalkan operasi menyita gereja. Ronnie Liu turut mengugut akan menukar kakitangan penguatkuasaan MBPJ secara besar-besaran sekiranya operasi diteruskan dan Elizabeth Wong mahu MBPJ keluar kenyataan menafikan tentang operasi haram DUMC;

Pastor Daniel Ho bimbang MBPJ akan ‘menutup’ pusat komuniti mereka (Dream Centre) atas alasan tidak memiliki permit. Hampir 80% gereja di Malaysia tidak berdaftar dan senasib dengan DUMC dan mereka sedang ‘melancarkan gerakan mencari’ gereja-gereja tersebut untuk dijadikan fakta sokongan kewujudan mereka pada masa depan;

• sebahagian daripada 12 orang Melayu tertekan setelah maklumat peribadi mereka disiarkan dalam media menyebabkan mereka terpaksa berpindah ke tempat lain. Harapan komuniti berusaha membantu mereka mencari rumah sewa;

• Raymond Koh bercadang utk memindahkan ahli keluarganya selepas melapor kepada polis setelah menerima surat ugutan dan peluru;

• pihak gereja akan menyediakan tempat tinggal untuk salah seorang dari 12, dengan membiayai sewa rumah dan RM2,000 sebulan sementara menunggu keadaan reda; dan

• salah seorang dari 12 – tertekan setelah isu DUMC didedahkan kepada umum dan butiran peribadi dipaparkan dalam laman sesawang sehingga dikutuk umat Islam. Juga bimbang mereka akan menjadi sasaran ugutan bunuh oleh anasir atau pelampau agama.

Saturday, July 23, 2011

Penjelasan Hukum Menentang Pemerintah

Saudara, banyak isu keganasan yang cuba dikaitkan dengan umat Islam atau tokoh-tokoh Islam adalah mainan jahat pihak-pihak tertentu. Mereka ini samada mempunyai agenda politik tertentu, ataupun berkerja bagi pihak musuh umat Islam bagi mencemarkan imej Islam. Sebahagian pihak menggunakan isu ini untuk tujuan politik seperti menghapuskan gerakan Islam yang dilihat mengancam kedudukan politik mereka. Namun begitu, tidak dinafikan kemungkinan ada sesetengah kelompok yang telah salah tindakan dalam hal ini sehingga mencetuskan keganasan. Berhubung dengan pendekatan keras terhadap pemerintah yang zalim dan menyeleweng, maka ini fahami perkara berikut;
1. Perkara asas dalam hal ini boleh difahami daripada ingatan Nabi s.a.w.:
“Akan dilantik para pemimpin yang kamu setujui (kebaikan sebahagian perbuatan mereka) dan kamu akan membantah (kejahatan sebahagian perbuatan mereka). Sesiapa yang membenci (perbuatan munkar) maka dia terlepas (dari dosa), sesiapa yang membantah maka dia selamat (dari dosa), namun (yang berdosa) sesiapa yang redha dan menuruti (perbuatan munkar)”. Sahabah bertanya: “Tidakkah boleh kami perangi mereka?” Jawab baginda: “Tidak! selagi mana mereka bersolat”
(Riwayat Muslim).
2. Daripada hadis di atas dapat kita fahami bahawa bertegas dalam membenci dan membantah kemungkaran dan kezaliman pemerintah itu adalah tuntutan agama. Namun, Nabi s.a.w tidak membenarkan rakyat memerangi pemerintah muslim dengan senjata selagi mereka itu bersolat. Solat menjadi petunjuk bahawa pemerintah tersebut masih berpegang dengan ajaran Islam dalam kehidupan. Keluar memerangi pemerintah dengan senjata hanya akan menimbulkan kerosakan yang lebih besar.

3. Juga, perhitungan tindakan dalam Islam adalah di sudut kadar manfaat dan mudarat. Menumpaskan pemerintah zalim dengan senjata biasanya mengundang mudarat yang jauh lebih bahaya dibandingkan manfaat yang hendak dicapai. Sebab itu al-Imam al-Nawawi (meninggal 676H) menyebut:
“kata ulama: alasan seseorang pemerintah tidak dipecat, atau pengharaman memeranginya kerana menyebab fitnah, penumpahan darah dan kerosakan yang nyata”
(al-Nawawi, Syarah Sahih Muslim 12/40)
4. Juga, kebencian atau bantahan terhadap kemungkaran pemerintah tidak membolehkan rakyat menderhakai mereka dalam perkara yang baik atau makruf. Ini seperti yang ditegaskan oleh hadis. Sabda Nabi:
“Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang kamu cintai mereka dan mereka mencintai kamu, kamu mendoakan mereka, mereka mendoakan kamu. Pemimpin yang jahat ialah pemimpin yang kamu benci mereka, mereka juga membenci kamu dan kamu melaknat mereka, mereka juga melaknati kamu”. Baginda ditanya: “Tidak bolehkah kami perangi mereka dengan pedang?” Jawab baginda: “Tidak, selagi mana mereka mendirikan solat. Ingatlah, sesiapa yang seseorang penguasa berkuasa ke atasnya, lalu dia dapati penguasa itu melakukan maksiat kepada Allah, maka hendaklah dia membenci maksiat tersebut namun jangan dia mencabut tangan dari ketaatan”
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
5. Ini kerana setiap pemerintah mungkin akan ada kesilapan atau dosa yang dilakukan. Jika setiap kali pemerintah bersalah atau melakukan dosa diperangi dengan senjata, maka hancurlah keamanan masyarakat dan negara. Maka justeru itu, kita menentang kemungkaran pemerintah, tetapi tidak akan memeranginya dengan senjata.

6. Ini kerana antara tujuan berpolitik dalam Islam adalah menegakkan keadilan, keamanan dan hak rakyat. Peperangan saudara dalam negara hanya akan menghancurkan perkara-perkara tersebut.

7. Arahan pemerintah yang zalim atau mungkar dalam perkara-perkara kebaikan tetap wajib ditaati. Kata al-Khattabi (meninggal 388H):
“Sesungguhnya jihad itu wajib sekalipun bersama dengan pemerintah yang zalim, sepertimana ia wajib bersama pemerintah yang adil. Kezaliman mereka tidak menggugurkan kewajipan mentaati mereka dalam persoalan jihad. Demikian juga dalam perkara kebaikan yang lain yang menyamainya”
(al-Khattabi, Ma‘alim al-Sunan, 2/ 357.)
Pendapat ini bersesuaian dengan sabda Nabi s.a.w :
“Dengar dan taat (kepada pemerintah) adalah kewajipan setiap individu muslim dalam perkara yang dia suka atau benci selagi dia tidak diperintahkan dalam perkara maksiat. Apabila dia diperintahkan dalam perkara maksiat maka tiada lagi dengar dan taat.
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
8. Sekalipun kita dilarang memerang pemerintah dengan senjata, tetapi kita tetap disuruh untuk menasihati mereka dan mencegah kemunkaran mereka dengan perkataan atau perbuatan yang tidak menyebabkan pertumpahan darah seperti undi dalam pilihanraya. RasuluLah s.a.w bersabda:
“Sesungguhnya Allah meredhai kamu tiga perkara, dan memurkai kamu tiga perkara. Dia meredhai kamu jika (pertama) kamu beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya sedikitpun, (kedua) kamu berpegang teguh dengan tali Allah kesemuanya. (ketiga) Kamu menasihati sesiapa yang Allah jadikan dia memerintah urusan kamu. Dia memurkai kamu banyak bercakap (yang tiada faedah), menghilangkan harta dan banyak bertanya
(Riwayat Malik).
Juga sabda Nabi s.a.w:
“Sebaik-baik jihad ialah perkataan yang adil –dalam riwayat yang lain: yang benar- di sisi pemerintah yang zalim, atau ketua yang zalim”.
(Riwayat al-Nasai, al-Tirmizi, Abu Daud dan Ibn Majah, dinilai sahih oleh al-Albani).
9. Nabi s.a.w juga memberi amaran kepada sesiapa yang mengampu atau mengiyakan kezaliman pemerintah dengan sabda baginda:
“Sesungguhnya selepasku ini akan adanya para pemimpin yang melakukan kezaliman dan pembohongan. Sesiapa masuk kepada mereka lalu membenarkan pembohongan mereka dan menolong kezaliman mereka maka dia bukan dariku dan aku bukan darinya dan dia tidak akan mendatangi telaga (di syurga). Sesiapa yang tidak membenar pembohongan mereka dan tidak menolong kezaliman mereka, maka dia dari kalanganku dan aku dari kalangannya dan dia akan mendatangi telaga (di syurga).
Riwayat Ahmad, al-Nasai, dan al-Tirmidhi. Hadith ini sahih seperti yang dinilai oleh al-Albani.
10. Pengkaji politik Islam tidak boleh terlalu literalist. Politik bukanlah ibadah khususiah seperti solat dan puasa yang tidak boleh diubah tambah. Politik soal pentadbiran dan kaedah untuk menegakkan keadilan dan keamanan dalam kehidupan rakyat berdasarkan prinsip-prinsip umum Islam. Kaedah membantah atau menukar pemerintahan berbeza-beza berdasarkan sistem yang dipakai. Para ulama dahulu mengharamkan menumbangkan sesuatu pemerintah atas alasan bimbangkan penumpahan darah.
Namun, dalam dunia hari ini sesebuah pemerintah mungkin boleh diubah atau ditukar, atau ditumbang tanpa memerlukan penumpahan darah seperti dalam sistem demokrasi pilihanraya. Maka dengan itu penyertaan parti-parti politik dalam demokrasi pilihanraya tidak boleh dianggap sebagai melanggar kaedah Islam atau sebagai keganasan kerana sistem tersebut tidak sepatutnya menumpahkan darah.

Kaedah Pembuktian Hudud

Kaedah pembuktian bermaksud cara yang digunakan bagi membuktikan kesalahan dihadapan mahkamah. Sebagai suatu kaedah bagi tujuan khusus, ia mungkin berbeza daripada “pembuktian” dalam konsepnya yang umum. Kerana, dalam konsepnya yang umum, pembuktian tidak semestinya di hadapan mahkamah dan tidak terikat dengan cara-cara tertentu. Sedangkan dalam konsepnya yang khusus ini ia perlu dilakukan di hadapan mahkamah dan perlu menggunakan cara-cara yang tertentu.

Ini bererti, kadangkala sesuatu “kebenaran” pada pandangan mahkamah tidak sama dengan realiti sebenar di luar mahkamah. Dengan kata lain, kadangkala apa yang diputuskan oleh mahkamah bertentangan dengan realiti sebenar di luar mahkamah. Semuanya terhenti atas samada realiti yang sebenar di luar mahkamah itu berjaya dibuktikan dengan cara-cara tertentu yang ditetapkan oleh undang-undang yang terpakai bagi mahkamah berkenaan.

Sehubungan dengan ini mahkamah sebenarnya berhadapan dengan dua nilai. Pertamanya, nilai keadilan. Berasaskan kepada nilai ini apa juga cara perlu digunakan asalkan keadilan itu dapat ditegakkan sementara nilai kedua pula ialah kemantapan atau kestabilan urusan guaman yang dilakukan. Berasaskan kepada nilai ini hakim perlu terikat dengan cara-cara tertentu dan bagaimana dia menilai hujah-hujah yang dikemukakan agar dia lebih telus dan terdapat keselarasan yang jelas di kalangan para hakim dalam menentukan hukuman.

Di bawah sistem kehakiman konvensional, terdapat berbagai pandangan dalam usaha mencari penyelesaian di antara dua nilai ini.1 Ada yang berpendapat mahkamah perlu bebas dalam mencari kebenaran dan tidak patut terikat dengan kaedah pembuktian tertentu. Ada pula yang berpendapat sebaliknya, iaitu mahkamah perlu terikat dengan kaedah tertentu yang digariskan oleh undang-undang berkenaan. Selain itu ada pula pendapat yang membezakan antara kes-kes jenayah dan kes-kes sivil. Berasaskan kepada pandangan ini, dalam kes-kes jenayah mahkamah perlu bebas sepertimana yang dicadangkan oleh pandangan pertama tadi sementara dalam kes-kes sivil mahkamah perlu terikat dengan kaedah-kaedah tertentu sebagaimana yang disarankan oleh pandangan kedua.


Kaedah Pembuktian Dalam Kes Hudud Pandangan Syariah Islam


Dr. Ahmad Mu'afi dalam buku beliau Min al-Fiqh al-Jina’i Bayna al-Syari‘ah al-Islamiyah wa al-Qanun2 menyebut, Syariah Islam lebih cenderung kepada mengikat mahkamah dengan kaedah pembuktian tertentu dalam kes-kes jenayah. Walau bagaimanapun, terdapat pandangan yang sebaliknya iaitu yang diutarakan oleh Ibn al-Qayyim dalam bukunya I‘lam al-Muwaqqi‘in dan al-Turuq al-Hukmiyyah.

Dalam I‘lam al-Muwaqqi‘in3 Ibn al-Qayyim menyebut:

“Dalam semua persoalan, Syariah Islam bertujuan untuk menjelaskan kebenaran walau dengan apa cara sekalipun, dan tidak akan menolak apa-apa sekalipun, dan tidak akan menolak apa-apa kebenaran apabila ada dalil yang jelas mengenainya. Kerana dengan penolakan seperti itu hak-hak Allah atau hambanya akan hilang atau terganggu. Sebenarnya kelahiran kebenaran itu tidak hanya bergantung kepada perkara tertentu sahaja. Oleh kerana itu tidak perlu ditentukan kaedah tertentu dalam menjelaskan kebenaran sedangkan kaedah lain juga boleh memainkan peranan yang sama tanpa apa-apa perbezaan.”

Dalam al-Turuq al-Hukmiyyah4 pula beliau menegaskan:

“Apabila tanda-tanda keadilan itu telah jelas, baik dengan apa cara sekalipun maka itulah Syariat dan agama Allah. Kerana Allah SWT lebih mengetahui, lebih bijaksana dan lebih adil dari hanya menentukan kaedah tertentu dalam memperjelaskan keadilan dan tanda-tandanya sedangkan ada cara-cara lain lagi yang lebih berkesan dan lebih telus. Malah Allah telah memperjelaskan bahawa apa yang penting ialah menegakkan keadilan itu sendiri di antara para hambanya dan supaya manusia berlaku adil. Maka apa sahaja cara yang boleh menegakkan keadilan dan kesaksamaan ia adalah kehendak
agama dan tidak bertentangan dengannya."



Tertarik dengan pandangan Ibn al-Qayyim ini, Dr. Ahmad Fathi Bahnasi5 berpendapat dalam Syariat Islam mahkamah tidak terikat dengan apa-apa kaedah tertentu dalam membuktikan kesalahan. Sebaliknya ia mempunyai kebebasan untuk menerima apa sahaja keterangan yang boleh memperjelaskan kebenaran.

Bagi memperjelaskan lagi prinsip terbuka berkenaan Dr. Bahansi menukilkan penegasan-penegasan Ibn al-Qayyim selanjutnya sepertimana berikut:

"Syariat Islam tidak hanya membataskan kepada kesaksian dua orang lelaki dalam menentukan kebenaran samada dalam kes-kes penumpahan darah, harta, perzinaan ataupun dalam kes-kes hudud. Malah para Khalifah al-Rasyidun dan para sahabat Rasulullah yang lain pernah menjatuhkan hukuman dalam kes zina berasaskan mengandung dan dalam kes minum arak berasaskan bau dan muntah."

Begitulah juga apabila didapati barang curi pada seseorang, orang tersebut lebih perlu dihukum dengan hukuman hudud daripada orang yang mengandung (tanpa suami) dan orang yang ada bau arak (di mulutnya). Segala bentuk gejala bau arak ada pada gejala terdapatnya barang curi pada seseorang, malah dengan cara yang lebih tegas. Ini kerana keraguan yang terdapat pada gejala mengandung, misalnya disebabkan oleh persetubuhan secara paksa atau secara “syubhah”, begitu juga yang ada pada gejala bau mulut dalam kes minum arak tidak ada dalam kes penemuan barang curi pada seseorang.

Para Khalifah al-Rasyidun dan para sahabat Rasulullah SAW sebenarnya tidak mengambil kira dengan keraguan seperti ini. Kerana pengambilkiraan keraguan seperti ini boleh membuka jalan ke arah penolakan kesaksian para saksi atas alasan yang sama. Kerana keraguan dalam kesaksian sebenarnya lebih besar daripada keraguan yang ada dalam keterangan-keterangan di atas tadi. Maksudnya, kalau keterangan-keterangan seperti tadi ditolak maka keterangan saksi lebih utama ditolak.”


Maka berasaskan prinsip yang terbuka ini Dr. Ahmad Fathi Bahansi berpendapat ada tujuh cara yang boleh digunakan dalam membuktikan kes jenayah, iaitu kesaksian, pengakuan, bahan bukti (qarinah), keterangan pakar (al-khibrah), pengetahuan hakim, dokumen ( al-kitabah) dan sumpah. Semuanya ini boleh disebut dalam satu istilah yang sama, iaitu keterangan (al-bayyinah).7

Bagaimanapun, dalam penulisan ini tumpuan akan diberikan kepada keterangan-keterangan yang boleh diterima dalam kes-kes hudud sahaja memandangkan persoalan yang dibincangkan di sini khusus tentang jenayah hudud, iaitu:

1. Keterangan Saksi (al-Syahadah)

Dalam al-Quran Allah berfirman:

Maksudnya:

“Maka hendaklah kamu bersaksikan dua saksi lelaki dari kalangan kamu”

Surah al-Baqarah (2) : 282


Firman Allah lagi:

Maksudnya:

“Maka hendaklah kamu melantik saksi dari kalangan yang adil di antara kamu”

Surah al-Talaq (65) : 2


Dalam hadis, antara lain Rasulullah SAW pernah bersabda kepada pihak pendakwa:
Maksudnya:

شا هداك أو يمينه

“Dua saksi kamu atau sumpahnya (yang terdakwa)"

(Riwayat Bukhari)


Selain di atas terdapat berbagai -bagai ayat dan hadis yang memberi pengertian yang sama, iaitu menunjukkan bahawa keterangan saksi merupakan suatu asas yang perlu diterima dalam menentukan keputusan di mahkamah. Dengan kata lain, ia mengikut hakim dalam membuat keputusan apabila segala syarat yang diperlukan dipenuhi.

Berasaskan kedudukan ini, seseorang yang layak memberi keterangan sebagai saksi berkewajipan memberi keterangan yang diperlukan oleh mahkamah. Dalam kes-kes sivil atau dalam istilah yang lebih tepat, kes-kes yang melibatkan hak individu kewajipan itu berlaku apabila dia diminta memberi keterangan berkenaan. Sementara dalam kes-kes yang melibatkan hak awam (Haqqullah) pula kewajipan berlaku walaupun tanpa diminta. Ini kerana ia merupakan hak yang boleh dituntut oleh pendakwa.8

Bagaimanapun, dalam kes-kes hudud secara khusus, seseorang boleh memilih samada mahu memberi keterangan berkenaan secara sukarela (Hisbah) atau sebaliknya dengan tujuan untuk melindungi maruah pihak yang melakukan kesalahan berkenaan. Malah terdapat hadis-hadis Rasulullah SAW yang memberi erti bahawa langkah melindungi maruah dengan cara tidak memberi keterangan seperti itu lebih diutamakan (afdal).

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda9:

من ستر عورة أخيه المسلم ستر الله عورته يوم القيامة

Maksudnya:

“Sesiapa yang melindungi (maruah) seseorang muslim Allah akan melindungi di dunia dan di akhirat”

(Riwayat Ibn Majah)


Dalam suatu hadis yang lain baginda Rasululah SAW bersabda kepada seorang yang bernama Huzal al-Aslami apabila orang tersebut membuat keterangan kesaksian di hadapan baginda.

Sabda Rasulullah SAW:
لو ستر ته ثوبك كان خيرا لك

Maksudnya:

“Kalau kamu lindunginya dengan pakaian kamu tentu sekali lebih baik bagi kamu.”

(Riwayat Abu Daud)

Perbezaan antara kes hudud dan kes-kes lain ini mempunyai asas yang jelas. Dalam kes-kes yang melibatkan hak individu, ada hak yang akan luput kalau sekiranya orang yang sepatutnya menjadikan saksi enggan memberi keterangan. Sebaliknya dalam kes hudud kehilangan hak seperti itu tidak akan berlaku, maka perlindungan terhadap maruah tertuduh wajar diutamakan

Kes mengambil harta orang telah dijadikan contoh yang praktikal oleh sesetengah fuqaha bagi menghuraikan perkara ini. Kalau sekiranya orang yang sepatutnya menjadi saksi dalam kes berkenaan tidak bersedia langsung untuk memberi keterangan, hak tuan punya harta untuk mendapatkan kembali hartanya yang diambil orang itu luput begitu sahaja. Tetapi kalau sekiranya saksi berkenaan memberi keterangan berasaskan jenayah mencuri, dia tidak bersikap melindungi maruah saudaranya yang dituduh dalam kes itu. Maka sebaik-baiknya dia memberi keterangan untuk menegakkan kes sivil sahaja, iaitu mengambil harta orang secara tidak sah10 yang tidak melibatkan tertuduh yang tidak segan silu melakukan kejahatan berkenaan. Kerana mereka yang seperti itu tidak perlu dilindungi maruahnya dan perlu dihapuskan.11

Bagaimanapun, untuk layak menjadi saksi seseorang itu perlu memenuhi syarat tertentu. Bagi para fuqaha12 syarat-syarat tersebut dikategorikan kepada dua. Pertamanya kelayakan mempunyai maklumat ( ) dan keduanya kelayakan memberi
keterangan tentang maklumat berkenaan.



Untuk menjadi layak mempunyai atau memiliki maklumat berkenaan seseorang itu perlu waras, iaitu seorang dewasa yang tidak gila. Dengan kata lain, kanak-kanak dan orang gila tidak layak mempunyai maklumat berkenaan.

Untuk layak memberi keterangan pula, seseorang itu perlu seorang yang waras baligh, adil, maksudnya seorang yang tidak terkenal sebagai jahat, beragama, iaitu tidak pernah melakukan dosa besar atau sentiasa melakukan dosa kecil, bermaruah iaitu tidak berkelakuan tidak sopan dan sebagainya.13

Selain itu dia perlu benar-benar tahu tentang kes berkenaan dan semestinya lelaki serta tidak dipaksa memberi keterangan berkenaan.14

Dalam memberi keterangan, saksi tidak boleh menggunakan kecuali maklumat yang dia benar-benar tahu. Para fuqaha menyebut pengetahuan seperti itu dapat diperolehi melalui dua cara, iaitu melihat sendiri atau mendengar sendiri apa yang berlaku.15
Adalah menjadi tanggungjawab hakim untuk menyoal saksi berkenaan kalau sekiranya dalam keterangan yang diberikan itu terdapat keraguan atau hal yang tidak jelas. Dalam kes mencuri misalnya hakim perlu mempastikan bagaimana perbuatan itu berlaku bagi mengelak kemungkinan apa yang dilakukan oleh yang tertuduh itu bukan perbuatan mencuri yang boleh dikenakan hukuman hudud. Begitu juga tentang bila kejadian itu berlaku, untuk mempastikan bahawa pendakwaan telah dibuat dalam tempoh yang belum luput, dan sebagainya.16


Khusus dalam kes zina, para saksi perlu disoal secara berasingan untuk mempastikan setiap mereka bercakap benar dengan menegaskan masing-masing melihat sendiri dengan jelas perbuatan berkenaan. Selain daripada kes zina, hakim boleh menyoal para saksi itu secara berasingan atau sebaliknya.17

Dari segi bilangan saksi, tidak semua kes memerlukan bilangan yang sama. Dalam kes zina, bilangan saksi yang diperlukan ialah empat. Syaratnya mereka mestilah melihat kejadian itu pada waktu yang sama dan sama-sama datang pada waktu yang sama untuk memberi keterangan. Bilangan yang sama juga diperlukan pada pandangan sesetengah para fuqaha dalam kes-kes liwat. Kerana bagi mereka perbuatan meliwat juga merupakan zina. Sementara pada pandangan sebahagian para fuqaha lain hanya perlu dua sahaja. Perbezaan pendapat ini berlaku juga dalam kes-kes lesbian dan menyetubuhi binatang.18

Dalam kes-kes selain hudud, bilangan yang diperlukan dua sahaja. Bagaimanapun dalam kes qadhf perlu ada perbezaan antara dua hal. Pertamanya untuk mensabitkan bahawa perbuatan qadhf itu sendiri benar-benar berlaku. Dalam hal ini dua orang saksi sudah memadai. Hal kedua ialah untuk mensabitkan bahawa yang kena qadhf itu seorang penzina. Bagi tujuan ini empat orang saksi diperlukan.19

2. Pengakuan (al-Iqrar)

Dalam al-Quran Allah berfirman:

Maksudnya:

“Dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan
(apa yang akan ditulis itu) dan hendaklah dia bertaqwa kepada Allah Tuhannya dan janganlah dia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya”

Surah al-Baqarah (2): 282 Dalam suatu ayat yang lain pula Allah berfirman:


Maksudnya:

“Jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan menjadi saksi kerana Allah biarpun terhadap dirimu sendiri.”

Surah al-Nisa’ (4): 135

Dalam hadis Rasulullah SAW, pengakuan Ma‘iz telah diterima oleh Baginda Rasulullah SAW sebagai asas kepada sabitan jenayah zina ke atas lelaki itu yang kemudiannya direjam.20 Sementara dalam hadis al-‘Asaif pula Rasulullah SAW bersabda:

أغد يا أنيس إلى أمرأة هذا فأن أعترفت فارجمها. قال فغدا عليها فاعترفت فأمربها رسول الله صلى الله عليه وسلم فرجمت

Maksudnya:

“Pergilah wahai Unais - seorang lelaki dari Aslam - kepada isteri orang ini (yang menuduh isterinya berzina). Kalau dia mengaku rejamlah dia. Unais lalu pergi menemui perempuan itu. Perempuan itu telah mengaku, laku Rasulullah SAW memerintahkan supaya direjam dan dia lalu direjam.”21

(Riwayat Muslim)


Semuanya ini menunjukkan bahawa pengakuan (Iqrar) diterima sebagai asas dalam mensabitkan kes, termasuk dalam kes-kes hudud. Bagaimanapun, untuk diterima oleh mahkamah ia perlu memenuhi syarat-syarat tertentu.

Antara syaratnya ialah orang yang membuat pengakuan melakukan jenayah itu mestilah seorang yang waras dan cukup umur. Berasaskan syarat ini pengakuan kanak-kanak di bawah umur, orang gila dan orang bodoh (al-ma’tuh) tidak sah, iaitu tidak boleh diterima oleh mahkamah.22

Selain daripada itu, mestilah pengakuan berkenaan dalam bentuk kata-kata, bukan dalam bentuk tulisan atau isyarat. Bagaimanapun, para fuqaha tidak sependapat tentang pengakuan orang bisu melalui isyarat yang boleh difahami. Bagi mazhab Syafi‘i ia boleh diterima tetapi bagi mazhab Hanafi ia sebaliknya.23

Satu syarat lain ialah bahawa pengakuan itu sendiri munasabah, iaitu selaras dengan kebiasaan hidup yang ada. Misalnya, pengakuan berzina oleh seorang yang tidak mempunyai alat kelamin tidak boleh diterima kerana amat jelas sekali dia berbohong.24

Adalah menjadi kewajipan ke atas hakim untuk menyoal orang yang membuat pengakuan itu untuk mengetahui samada dia memahami apa yang dikatakan olehnya itu, mempunyai objektif yang jelas, juga memahami implikasinya, termasuk yang berkait dengan hukuman. Malah, khusus dalam kes-kes hudud hakim di sunatkan memandu orang yang membuat pengakuan itu supaya menarik balik pengakuan tersebut kerana tiada siapa yang akan menanggung kerugian dengan penarikan balik pengakuan seperti itu. Ini mermandangkan bahawa hudud menyentuh hak Allah (masyarakat) dan tidak menyentuh apa-apa hak individu.25


Walau bagaimanapun, pengakuan hanya akan melibatkan pihak yang membuat pengakuan itu sahaja dan tidak sekali-kali akan melibatkan pihak ketiga. Kalau sekiranya seorang lelaki membuat pengakuan berzina dengan seorang perempuan tertentu kesalahan tersebut hanya akan sabit ke atas dirinya sahaja dan tidak atas perempuan itu, kecuali kalau perempuan itu juga mengaku.26
Mengikut pendapat yang rajih, untuk diterima oleh mahkamah sebagai asas menentukan hukuman, pengakuan sepertimana yang dibincangkan di atas perlu dilakukan dalam kontek pendakwaan yang ada. Misalnya dalam kes mencuri semata-mata mengaku mencuri tanpa didahului oleh adanya aduan atau dakwaan oleh pihak yang menjadi mangsa pencurian tersebut, pengakuan itu tidak boleh diterima. Bagaimanapun, sesetengah para fuqaha tidak berpendapat pendakwaan merupakan syarat perlu bagi penerimaan pengakuan.27

Satu syarat lain bagi penerimaan pengakuan sebagai asas penentuan hukuman ialah bahawa pengakuan itu mestilah dilakukan dengan pilihan sendiri dan tidak dipaksa. Dengan kata lain yang lebih tepat ia tidak dipengaruhi oleh sesuatu yang mencacatkan kebebasan memilih seperti paksaan, mabuk, gila dan sebagainya.28

Dari segi bilangan kali pengakuan itu sendiri supaya boleh diterima sebagai asas hukuman oleh mahkamah terdapat keperluan berbeza di antara satu jenayah dengan jenayah yang lain. Dalam kes zina misalnya yang diperlukan ialah sebanyak empat kali. Ini berasaskan kepada hadis Rasulullah SAW dalam kes Ma‘iz, dimana sesudah pengakuan itu berlaku sebanyak empat kali barulah Rasulullah SAW menerimanya. Walau bagaimanapun, ada juga para ulama yang tidak melihat kekerapan itu sebagai syarat penerimaan. Mereka berhujah dengan hadis al-‘Asaif dan al-Ghamidiyah. Dalam hadis-hadis tersebut tiada sebutan tentang bilangan pengakuan yang dimaksudkan.29

Dalam kes-kes mencuri dan meminum arak sesetengah para fuqaha mensyaratkan dua kali pengakuan. Bagaimanapun, pandangan terbanyak mengatakan dalam kes-kes seperti ini soal bilangan tidak berbangkit. Perbezaan pendapat seperti ini berlaku juga dalam kes qadhf. Ia berpunca daripada tanggapan yang berbeza-beza tentang hadis-hadis Rasulullah SAW dalam kes-kes seperti itu.

Tentang cara melakukan pengakuan pula, para fuqaha berbeza pendapat samada hakim wajar bertanya tentang bilakah kesalahan yang diakui itu berlaku. Kalangan yang mengatakan tidak wajar memberi alasan kerana soalan itu tidak perlu. Ini kerana keperluan soalan seperti itu ketika saksi memberi keterangan ialah untuk menentukan bahawa keterangan saksi itu berlaku dalam tempoh masa yang dibenarkan, iaitu sebelum luput jangka waktu tertentu ( al-Taqadum). Sedangkan pengakuan tidak terikat dengan tempoh luput.

Bagi mereka yang berpendapat wajar pula, soalan seperti itu memang ada faedahnya, iaitu untuk mempastikan bahawa jenayah yang diakui itu berlaku dalam tempoh pengaku berkenaan layak memikul tanggung jenayah, misalnya sesudah dia cukup umur.30
Selain tentang bila, hakim juga perlu bertanya tentang bagaimana. Ini untuk mempastikan bahawa orang yang membuat pengakuan itu benar-benar faham maksud jenayah yang diakui oleh beliau melakukannya itu. Dalam kes perzinaan, misalnya soalan yang perlu dikemukakan ialah tentang apa itu yang dimaksudkan dengan “zina” itu sendiri, bagaimana dia melakukan dan dengan siapa dia dilakukan. Malah keadaan beliau semasa melakukannya, samada dalam keadaan sebagai seorang muhsan atau sebaliknya.31

Dalam hadis Mu‘adh, soalan seperti ini jelas sekali ditanyakan oleh Rasulullah SAW apabila lelaki itu berulang kali membuat pengakuan berzina di hadapan baginda Rasulullah SAW.

Malah sebahagian besar para fuqaha berpendapat boleh bagi hakim mendorong orang yang membuat pengakuan itu supaya menarik balik pengakuannya. Ada riwayat yang mengatakan Khalifah ‘Umar Ibn al-Khattab apabila berhadapan dengan seorang yang di bawa menemuinya atas tuduhan mencuri terus bertanya orang itu” Awak mencuri? Katakan tidak” Kata orang itu “Tidak”. Beliau lalu membiarkan orang itu pergi. Khalifah Abu Bakr, Abu Hurairah, Ibn Mas‘ud dan Abu al-Darda’ juga diriwayatkan sebagai mempunyai pandangan yang sama. Sayidina ‘Ali pula diriwayatkan telah mengherdik seorang yang telah membuat pengakuan mencuri di hadapannya dan menghalau orang itu dari sisinya.32

Dalam kes di mana pengakuan itu dibuat di luar mahkamah, dan kemudian pihak yang membuat pengakuan itu menafikan pengakuan berkenaan, pengakuan itu boleh disabitkan melalui kaedah pensabitan biasa, seperti melalui saksi dan sebagainya. Sehubungan dengan ini para fuqaha berbeza pendapat kalau hal seperti ini melibat kes perzinaan. Bagi sesetengah para fuqaha ia boleh disabitkan melalui dua orang saksi. Kerana itulah keperluan biasa dalam penerimaan keterangan saksi. Bagaimanapun, bagi golongan satu lagi, empat saksi diperlukan, kerana bilangan sebanyak itu diperlukan bagi mensabitkan kes zina melalui keterangan33 saksi.

Bagaimanapun, pengakuan yang dibuat di mahkamah itu sendiri boleh ditarik balik setakat yang menyentuh hak Allah (awam) semata-mata. Contohnya dalam kes zina dan minum arak. Bagaimanapun, kalau kes berkenaan menyentuh hak individu, seperti qadzaf dan mencuri ia tidak boleh ditarik balik.


Pada pandangan para fuqaha ada beberapa tindakan yang dianggap sebagai menarik balik pengakuan yang telah dibuat iaitu:34

1. Menyebut sendiri penarikan balik itu sebelum atau ketika hukuman berkenaan sedang dijalankan.
2. Cabut lari sewaktu hukuman sedang dijalankan. Walau bagaimanapun kalau perbuatan melarikan diri itu dilakukan sebelum hukuman itu dilaksanakan dia perlu ditangkap semula kecuali dia dengan jelas menyatakan menarik balik pengakuannya itu.

3. Berlaku percanggahan dalam pengakuan-pengakuan yang dilakukan oleh beliau. Dalam keadaan seperti ini penarikan balik pengakuan dikira telah berlaku.

3. Bukti Keadaan (al-Qarinah)

Dalam bahasa Arab, istilah yang digunakan ialah Qiranah. Dari segi bahasa ia memberi erti perkaitan yang rapat dan berterusan.

Kedudukannya sebagai bukti terhadap sesuatu jenayah sentiasa tidak sama. Kerana ia berkait rapat dengan sekuat mana ianya berkait dengan jenayah itu sendiri. Kadangkala ia memberi suatu petunjuk yang amat meyakinkan sekali, dan kadang-kadang ia hanya memberi petunjuk yang bersifat kemungkinan kecil sahaja. Bagaimanapun, semuanya ini banyak dipengaruhi oleh kebijaksanaan seseorang membuat penilaian terhadapnya.

Di kalangan para fuqaha Islam, tokoh yang paling memberi perhatian kepada kedudukan “bukti” (Qarinah) ini sebagai satu jenis keterangan yang boleh digunakan di mahkamah ialah Ibn al-Qayyim al-Jauziyah. Dalam buku beliau al-Turuq al-Hukmiyyah Fi al-Siyasah al-Syar‘iyyah beliau menghuraikan dengan panjang lebar bagaimana jenis keterangan seperti ini perlu diterima oleh mahkamah termasuk dalam kes-kes hudud.

Kata beliau, apa yang dimaksudkan dengan keterangan ( al-bayyinah) ialah apa saja yang boleh menjelaskan kebenaran. Ia tidak semestinya dalam bentuk saksi samada satu dua atau empat. Malah dalam al-Quran sendiri tidak pernah istilah “al-Baiyinah” itu digunakan bagi pengertian saksi.

Malah, kata beliau lagi, hadis Rasulullah SAW yang menyebut bermaksud supaya pihak pendakwa mengemukakan hujah untuk membuktikan kebenaran dakwaannya itu. Meskipun antara hujah atau alasan yang dimaksudkan ialah keterangan saksi, tetapi ini tidak menolak penerimaan terhadap keterangan-keterangan dari jenis lain juga. Malah ada kemungkinan keterangan-keterangan jenis lain, terutama keterangan yang bersifat bukti kejadian (qarinat al-hal) lebih meyakinkan daripada keterangan saksi.35

Bagaimanapun, para fuqaha berbeza pendapat tentang masalah penerimaan “bukti” (qarinah) ini, terutama dalam kes-kes hudud. Persoalan yang timbul ialah sejauh mana asas penerimaannya dalam al-Quran dan al-Sunnah dan samada ia tidak bertentangan dengan prinsip “menolak hudud kerana ada syubhah” (Dar’ al-
Hudud bi al-Syubhat).

Dalam kes penzinaan, perbezaan pendapat begitu ketara sekali tentang masalah ini. Jumhur fuqaha iaitu yang terdiri daripada para fuqaha mazhab Hanafi, Syafi‘i dan Hanbali menolak keterangan jenis ini secara total. Bagaimanapun, mazhab Maliki berpendapat ia pada asasnya boleh diterima kecuali ada bukti yang menunjukkan ianya tidak boleh diterima.

Dalam kitab-kitab fiqh terdapat perbincangan yang menarik tentang kes perempuan yang tidak bersuami hamil. Para fuqaha mazhab Maliki berpendapat kalau sekiranya wanita itu adalah wanita tempatan dan tidak ada bukti yang menunjukkan dia dipaksa melakukan hubungan seks dia boleh dihukum hudud berasaskan bukti tersebut. Asas yang mereka pegang ialah kata-kata Khalifah ‘Umar r.a. “Hukuman rejam wajib (dilaksanakan) ke atas sesiapa sahaja yang berzina, samada lelaki atau perempuan kalau sekiranya dia muhsan apabila ada keterangan saksi (al-baiyyinah) atau dia mengandung atas atau ada pengakuan”.36

Dalam al-Muwatta’ al-Imam Malik menyebut:

“Saya mendapat maklum bahawa (Khalifah) ‘Uthman Ibn ‘Affan r.a. telah dibawa kepadanya seorang perempuan yang melahirkan anak selepas baru mengandung enam bulan.

Beliau memerintahkan supaya perempuan itu direjam.

Kemudian ‘Ali r.a. berkata kepadanya, perempuan itu tidak boleh direjam kerana Allah SWT berfirman “Tempoh mengandung dan menyusu selama tiga puluh bulan” dan firman Allah SWT lagi: “Ibu-ibu akan menyusui anak-anak mereka dua tahun penuh bagi mereka yang mahu menggenapkan (tempoh) penyusuan. Maka, kata Ali r.a. tempoh maksimum mengandung ialah enam bulan.Lalu perempuan itu tidak boleh dihukum rejam. Uthman lalu mengarahkan supaya perempuan itu dibawa kembali. Bagaimanapun, dia telah direjam sebelum itu.”37

Bagaimanapun, perbezaan pendapat ini mungkin boleh diselesaikan dengan baik berasaskan kemajuan sains dan teknologi sekarang ini, termasuk dalam sains penyiasatan sendiri. Apa yang penting ialah untuk menentukan tanpa keraguan yang munasabah samada kehamilan berkenaan berlaku akibat perzinaan atau sebaliknya.

Dalam jenayah mencuri berlaku perbincangan di kalangan para fuqaha apabila terdapat barang curi dalam simpanan (hiyazah) tertuduh yang mendakwa bahawa barang itu miliknya sendiri. Mengikut pendapat sesetengah para fuqaha, dakwaan bahawa barang itu adalah miliknya sendiri merupakan suatu keraguan yang boleh menggugurkan hudud daripadanya.38 Bagaimanapun, persoalannya kalau begitulah hukumannya tidaklah ia akan membuka ruang yang luas kepada para pencuri untuk melepaskan diri daripada hukuman hudud dengan berdusta mengatakan bahawa barang berkenaan miliknya?

Dalam bukunya al-Turuq al-Hukmiyyah, Ibn al-Qayyim menjawab:

“Para imam dan khalifah al-Rasyidin sentiasa menjatuhkan hukuman potong tangan apabila barang curi berkenaan didapati berada dalam simpanan tertuduh. Bukti (al-qarinah) ini sebenarnya lebih kuat daripada saksi dan pengakuan. Kerana keterangan saksi dan pengakuan itu merupakan penyataan yang mungkin betul dan mungkin tidak. Sedangkan keberadaan harta berkenaan bersama tertuduh merupakan kenyataan yang jelas dan tidak boleh diragui lagi.”39

Dalam jenayah minum arak pula perbincangan timbul dalam kes apabila terdapat bau arak dimulut tertuduh atau dia muntahkan arak. Mengikut pendapat sesetengah para fuqaha hukuman hudud tidak boleh dikenakan ke atas orang berkenaan kerana ada keraguan samada bau tersebut benar-benar bau arak. Malah terdapat juga keraguan samada dia meminum arak itu atas pilihannya sendiri atau kerana keliru atau terpaksa. Ini adalah pandangan jumhur fuqaha, termasuk mazhab Abu Hanifah, al-Syafi‘i dan al-Thauri.40 Sementara golongan kedua pula berpendapat bahawa qarinah seperti itu boleh diterima sebagai asas hukuman hudud ke atas tertuduh. Antara mereka yang berpendapat seperti ini ialah mazhab Maliki dan sestengah para fuqaha mazhab Hanbali.41

Mengikut Ibn al-Qayyim, ini adalah amalan yang diwarisi sejak daripada khulafa al-Rasyidin lagi.42

Agak jelas sekali perbezaan-perbezaan pendapat ini berlaku kerana tidak ada dalil-dalil khusus daripada al-Quran atau al-Sunnah mengenai persoalan seperti itu. Segala pandangan banyak berdasarkan kepada ijtihad yang berasaskan dalil-dalil umum al-Quran dan al-Sunnah dan penganalisaannya terhadap realiti hidup dan kehakiman pada waktu itu. Maka pada masa ini tradisi ijtihad ini perlu dilanjutkan supaya keadilan dapat ditegakkan dengan sebaik-baiknya.

4. Kenyataan Pakar (al-khibrah)

Dalam beberapa keadaan hakim memerlukan pandangan pakar bagi memberi nasihat dalam hal-hal tertentu untuk menghilangkan keraguan. Kebenaran untuk mendengar nasihat pakar ini terkandung dalam pengertian umum ayat.


Maksudnya:

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”

Surah al-Nahl (16): 43 Dalam al-Mabsut al-Sarakhsi menyebut:

“Apabila pemerintah merasa ragu tentang harga barang yang dicuri itu dan para pakar juga berbeza pendapat tentangnya, di mana sebahagian daripada mereka menyebut ianya bernilai sepuluh dirham, sementara sebahagian yang lain mengatakan kurang dari itu, pencuri itu tidak boleh dihukum potong tangan. Kerana syarat cukup nisab perlu diambil kira secara hakiki, di mana ia dikira tidak tercapai kalau

sekiranya para penilai berbeza pendapat tentangnya.”43

Kata Ibn al-Humam:

“Dalam Muwatta’nya, Malik meriwayatkan daripada ‘Abdullah Ibn Abi Bakr daripada bapanya daripada ‘Imrah

binti ‘Abd al-Rahman bahawa seseorang telah mencuri buah utrujjah pada zaman ‘Uthman Ibn ‘Affan. ‘Uthman
meminta supaya buah itu dinilai, lalu ia dinilai sebanyak kurang tiga dirham dua belas dinar. Beliau lalu memotong

tangan orang itu.”44

Kata Ibn Qudamah:

“Apabila ada perbezaan pendapat samada luka (yang dialami) itu parah atau tidak atau ada perbezaan pendapat tentang penyakit yang dihidapi seseorang, sekurang-kurangnya dua orang doktor perlu memberi pandangan masing-masing. Bagaimanapun, kalau hanya ada seorang

doktor sahaja, seorang pun cukup.”45


Kata Ibn al-Qayyim:

“Para guru saya menjelaskan dalam keadaan yang memerlukan, kesaksian seorang lelaki tanpa sumpah pun boleh diterima. Pandangan ini dinukilkan oleh al-Kharqi dalam Mukhtasarnya. Kata beliau: Keterangan seorang doktor yang adil boleh diterima dalam menentukan kadar luka sekiranya pandangan seorang doktor lagi tidak dapat diperolehi.”46

Semua kenyataan di atas menunjukkan bahawa para fuqaha berpendapat pendapat pakar boleh diterima sebagai satu keterangan di mahkamah yang boleh menjadi asas kepada keputusan menjatuhkan hukuman hudud ke atas pesalah.

5. Pengetahuan Hakim (Ma‘lumat al-Qadi)

Apa yang dimaksudkan di sini bukanlah maklumat yang diperolehi oleh hakim bicara melalui proses perbicaraan kes berkenaan. Apa yang dimaksudkan ialah maklumat yang diperolehi oleh hakim berkenaan di luar mahkamah sebagai seorang biasa. Contohnya hakim berkenaan melihat sendiri kejadian itu atau telah mendengar tentangnya dairpada orang ramai.

Para fuqaha berbeza pendapat tentang pekara ini, samada boleh diterima sebagai asas penentuan hukum atau sebaliknya.

Mengikut pendapat dalam mazhab al-Syafi‘i, apa sahaja pengetahuan yang diperolehi oleh hakim berkenaan secara biasa tidak boleh digunakan sebagai asas penentuan hukum. Tetapi kalau sekiranya maklumat itu diperolehi melalui dua orang saksi yang dikenalinya sebagai bersifat adil dia boleh menggunakan maklumat dari luar mahkamah itu sebagai asas kepada hukuman.

Dalam mazhab Hanafi, maklumat seperti itu tidak boleh digunakan dalam kes-kes hudud walaupun boleh dalam kes-kes yang berkait dengan hak individu. Sebabnya kerana jenayah hudud menyentuh hak Allah (masyarakat umum), sedangkan hakim mewakili kepentingan mereka.


Lain pula pendapat mazhab Zahiri. Bagi mazhab ini hakim perlu menggunakan maklumat peribadinya itu dalam semua kes termasuk kes-kes hudud. Kata Ibn Hazm, asas yang paling kukuh ialah pengetahuannya sendiri, kemudian pengakuan, dan kemudian baru keterangan saksi.47


6. Dokumen (al-Kitabah)

Yang dimaksudkan ialah dokumen yang boleh menjadi dalil kepada berlakunya jenayah berkenaan. Antara contohnya ialah tulisan yang mengandungi pengakuan tertuduh melakukan jenayah berkenaan.

Walaupun ada pandangan yang menerima dokumen sebagai salah satu bentuk keterangan yang boleh mensabitkan kesalahan dalam kes-kes sivil namun dalam kes-kes jenayah mereka berpendapat hanya tulisan dalam bentuk pengakuan sahaja yang boleh diterima. Itupun hanyalah sebagai satu pengakuan (al-Iqrar) sahaja. Kata Ahmad Fathi Bahnasi, kalau sekiranya tulisan itu mengandungi pengakuan melakukan jenayah hudud dan yang tertuduh mengaku itu adalah tulisannya maka dengan itu dia dianggap telah melakukan dua pengakuan. Tetapi kalau yang tertuduh menafikan bahawa itu adalah pengakuannya maka dia dianggap sebagai telah menafikan atau menarik balik pengakuannya yang terdahulu.48


7. Sumpah (al-Yamin)

Mengikut para fuqaha, ada tiga jenis sumpah yang mungkin berlaku di mahkamah. Pertamanya, sumpah pendakwa, keduanya sumpah yang terdakwa, dan yang ketiganya sumpah saksi.

Sumpah pihak pendakwa boleh berlaku dalam dua bentuk. Pertamanya dalam bentuk “qasamah”. Ia bermaksud sumpah bagi tujuan untuk mensabitkan kesalahan ke atas yang terdakwa berasaskan bukti awal (al-Lawth) yang ada.

Secara popularnya sumpah qasamah ini berlaku dalam kes pembunuhan. Ulama berbeza pendapat samada ia merupakan cara untuk mensabitkan kes atau menolak sabitan kes itu.


Dalam jenayah hudud ia hanya boleh berbangkit dalam kes mencuri. Itupun dengan syarat ada bukti awal (al-lawth), iaitu keberadaan barang yang dicuri bersama tertuduh.

Secara lebih jelasnya, adalah menjadi kaedah umum dalam Syariat Islam pihak pendakwa perlu membawa saksi untuk membuktikan dakwaannya. Kalau tidak, dakwaan itu tidak boleh disabitkan. Walau bagaimanapun, dalam kes mencuri ini pendakwa akan diberi peluang untuk bersumpah dengan syarat ada bukti bahawa barang yang dicuri itu ada bersama yang tertuduh (al-lawth).

Walau bagaimanapun, ia tidak boleh mensabitkan hukuman hudud itu sendiri, iaitu potong tangan. Sebaliknya ia sekadar boleh mensabitkan hukuman yang berkait dengan masalah kehartaan sahaja, iaitu memulangkan balik harta yang dicuri itu kalau masih ada atau membayar ganti rugi kalau sudah musnah.49

Bentuk kedua ialah sumpah yang ditolak (al-yamin al-mardudah). Sumpah seperti ini boleh berlaku dalam kes mencuri juga dan dalam kes qadhf. Secara prinsipnya kalau A mendakwa B dengan satu kesalahan tetapi tidak ada saksi untuk mensabitkan kesalahan itu, dan B pula tidak mengaku salah, tidak ada kesalahan yang boleh disabitkan. Tetapi dalam kes tuduhan mencuri, hakim, atas permintaan pendakwa boleh meminta yang kena tuduh bersumpah untuk membersihkan dirinya daripada tuduhan tersebut. Kalau dia bersumpah dia akan terlepas daripada tuduhan itu. Tetapi kalau dia enggan bersumpah dia akan dianggap “nukul” iaitu enggan menggunakan peluang bersumpah untuk membersihkan dirinya. Dengan itu juga bererti sumpah itu dipulangkan kembali kepada pendakwa.

Walau bagaimanapun, sumpah seperti ini hanya boleh mensabitkan hukuman ganti rugi harta sahaja dan bukan hukuman hudud, iaitu potong tangan.50
Dalam kes qadhf, kalau pihak yang melakukan qadhf itu tidak mempunyai saksi untuk menyokong tuduhannya dia boleh meminta pihak yang kena qadhf bersumpah membersihkan


Kaedah Pembuktian Dalam Kes Hudud

dirinya. Kalau pihak yang kena qadhf itu enggan bersumpah qadhf itu dikira benar dan pihak yang melakukan qadhf akan dikira benar dan pihak yang melakukan qadhf akan terlepas daripada hukuman qadhf. Ini adalah pandangan mazhab Syafi‘i. Kata mereka, sumpah seperti ini hanya boleh berlaku dalam kes qadhf sahaja dan tidak dalam kes-kes hudud yang lain. Ini kerana qadhf itu sendiri adalah pencerobohan terhadap kepentingan individu, tidak seperti jenayah hudud yang lain di mana pihak dicerobohi di dalamnya ialah kepentingan awam.51

Sebaliknya para fuqaha mazhab lain tidak berpendapat begitu. Bagi mereka, sumpah seperti ini tidak boleh diterima pakai dalam apa sahaja kes hudud, termasuk kes qadhf. Namun ada juga di kalangan mereka yang mengatakan boleh tetapi tidak melibatkan hukuman hudud, cuma ta’zir sahaja.52

Sumpah pihak yang kena dakwa pula tidak boleh berlaku dalam kes hudud. Kerana tujuan hakim meminta yang terdakwa bersumpah hanyalah untuk bertindak balik sekiranya dia enggan atas dasar berlaku keengganan (nukul) yang boleh mengembalikan peluang bersumpah itu kepada pihak yang mendakwa. Tetapi oleh kerana dalam kes hudud sumpah yang dikembalikan (al-yamin al-mardudah) itu tidak boleh diterima pakai maka sumpah yang terdakwa tidak berbangkit.53

Bagaimanapun, dalam kes mencuri sumpah seperti ini boleh diterima pakai bagi tujuan mensabitkan hukuman ganti rugi harta yang dicuri sahaja dan bukan hukuman hudud potong tangan, iaitu sama dengan sumpah qasamah yang dihuraikan di atas.54


Penutup

Samada Mahkamah terikat atau sebaliknya dengan kaedah tertentu dalam menerima dan menolak pembuktian dalam kes-kes hudud suatu persoalan yang masih boleh diperbincangkan. Kerana ia merupakan masalah khilafiah yang telah diperdebatkan oleh para ulama sejak zaman klasik lagi.

Namun apa yang penting dalam konteks tulisan ini ialah Islam mempunyai kaedah yang ketat dalam menerima apa-apa keterangan yang boleh nensabitkan mana-mana kes Hudud. Pertamanya kerana Islam mahu mempastikan keadilan berlaku di Mahkamah dalam kadar yang maksimum. Selain daripada itu ialah kerana Hudud merupakan jenayah berat yang perlu ditangani dengan penuh hati-hati agar ia dapat diurus dengan berkesan.

Bagi tujuan yang sama Islam meletakkan syarat-syarat yang ketat dalam menerima apa saja keterangan baik berupa saksi, pengakuan atau bukti keadaan (qarinah) meskipun dalam konsep biasa kaedah-kaedah seperti ini merupakan kaedah-kaedah yang kukuh. Namun selain daripada itu Islam juga membuka ruang bagi perkembangan kaedah pembuktian ini dengan menerima pengetahuan Hakim sendiri, dokumen, pendapat pakar dan sumpah sebagai bahan bukti yang layak diterima. Bagaimana pun para fuqaha berbeza pendapat dalam perkara ini. Bagi kita sekarang perbezaan pendapat ini boleh dijadikan sebagai asas bagi memperbaharui pandangan fiqh selaras dengan kemajuan dan kepentingan semasa. Pokoknya ialah keadilan perlu ditegakkan dan dalam menegakkan keadilan tidak sepatutnya mana-mana pihak teraniaya.

Begitulah hudud, suatu kaedah hukumman yang dikatakan berat. Namun apabila dilihat aspek pembuktiannya ternampak bahawa apa yang dilihat sebagai berat itu tidak sangat menggerunkan kerana ia dikawal oleh kaedah pembuktian yang ketat bagi menjamin keadilan tidak tercemar.